 Untuk persoalan jodoh, setiap orang hendaknya bersungguh-sungguh, baik laki-laki maupun perempuan harus proaktif dan selektif. Tidak ada dikotomi bahwa laki-laki harus mencari dan perempuan harus menunggu (ikhtiar), namun tidak keluar dari norma dan syariat.
Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan yang ‘menawarkan’ dirinya pada Rasulullah, dan Rasul-pun tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang hina atau tabu. Hanya saja, kini kita berada pada budaya yang masyarakatnya masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak etis, sehingga perempuan-perempuan Indonesia untuk persoalan jodoh lebih banyak berperan menunggu dibandingkan ‘mencari’.
Agar pernikahan bersemi dengan indah, maka dalam memilih jodoh hendaknya kita sangat mengutamakan ajaran Islam, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW. “..lihatlah agamanya maka kalian akan mendapatkan semuanya…”. Dengan memiliki pasangan yang agamanya baik dan benar, maka rumah tangga kita akan menjadi sakinah, mawaddah dan warahmah. Mengutip wejangan dari ustadz Satria Hadi Lubis, suami dari ustadzah Kinkin Annida dalam sebuah acara seminar “Pasutri Menuju Samara” beberapa waktu lalu mengatakan, bawa dia tidak terlalu bersepakat apabila seorang perempuan menawarkan dirinya secara terang-terangan, karena menurutnya hal itu merupakan sikap yang kurang ahsan (etis).
“Penawaran itu sah-sah saja, manakala tidak secara langsung, misalnya lewat perantara pihak ketiga. Masih menurutnya, biar bagaimanapun kita berada pada masyarakat timur yang masih sangat memegang adat dan etika,” ujarnya.
Jodoh, memang merupakan misteri kehidupan, karena untuk hal yang satu ini terkadang membuat seseorang sangat bimbang dalam menentukan keputusannya. Jangankan untuk menerima seseorang menjadi pasangan hidupnya kelak, dalam persoalan menerima tawaran ta’aruf saja terkadang masih terlalu banyak ‘kriteria’ yang dipakai.
Sampai-sampai kriteria yang dipasangpun sudah tidak memenuhi kriteria syar’i lagi, seperti : harus yang ‘smart’, tinggi, putih, cantik, ganteng, kaya, sarjana, dan lainnya. Tidak salah memang untuk memasang kriteria seperti itu, hanya saja menurut beliau hendaknya kita tidak mempersulit diri untuk persoalan ini.
Lain halnya bagi Cecep Yusuf Pramana, suami dari Tarwiyah, yang kini punya tiga orang anak. Persoalan fisik adalah titipan dari Allah SWT, saya meminjam istilah Aa Gym, kita tidak pesan sama Allah waktu mau dilahirkan! biar hitam asal hatinya putih, biar pendek asal akhlaknya tinggi, biar kurang ganteng asal taqwa, biar kurang cantik tapi sholehah.
Insya Allah, tidak akan menyesal bagi yang memilih pasangan hidup berdasarkan agamanya, saya sudah membuktikannya dengan hidup bersama istri selama 10 tahun berjalan.
Proses untuk memperoleh jodoh yang baik juga menjadi ukuran. Menurut Islam, “laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (pula) (QS. An Nuur (24): 26). Bisa diartikan bahwa jika kita seorang laki-laki yang baik maka kita akan mendapatkan istri yang baik demikian sebaliknya. Inginkah kita dipandang sebagai seseorang yang baik dalam pandangan Islam?
Jika demikian, mulailah dari sekarang untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. “Mendapatkan pasangan yang baik dapat diukur dengan niat kita untuk berumah tangga. Maksud saya, kita harus benar-benar dalam kondisi keimanan yang prima saat ingin melaksanakan pernikahan dan ukurannya adalah niat berumah tangganya. Jangan sekali-kali berniat menikah saat niatnya belum lurus. Hal itu akan mempengaruhi hasil dari pasangan yang akan kita dapatkan.
Saat niat dan kondisi keimanan sudah prima maka silahkan berencana untuk menikah. Mulailah dari sekarang untuk menyusun strategi dan taktik agar mendapatkan pasangan yang sesuai dengan idealisme. Strategi dan taktik ini merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara Islami. Salah satu proses itu adalah ta’aruf (perkenalan), dalam proses ini harus dijalani secara ma’ruf. Agar proses ta’aruf menjadi ma’ruf, maka diperlukan kesabaran yang cukup.
Ta’aruf (perkenalan) terkadang tidak menjadi jaminan kita akan langsung dapat menikah. Sekali gagal coba lagi, gagal lagi coba lagi, demikian hingga akhirnya kita mendapatkan pasangan yang sebenarnya yang bersamanya kita dapat membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Jangan sia-siakan pernikahan, sungguh-sungguhlah dalam menggapainya. Hmm, seandainya di dunia ini ada syurga, syurga itu adalah pernikahan yang bahagia”. Rasulullah SAW pun berkata ‘Baiti Jannati”, rumahku syurgaku. Kebahagiaan merupakan hal yang relatif. Tiap orang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Namun saya yakin kebahagiaan yang hakiki dapat kita peroleh hanya dengan jalan-Nya. Ingin memiliki rumah tangga yang bisa kita jadikan syurga kita didunia??? Ikutilah petunjuk Rasul. Lihat agamanya niscaya kalian akan mendapatkan semuanya”. Wallahu’alam Bishawab. Selamat menikmati, bagi anda yang ingin menikah. Mohon sharingnya.
  | jodoh..?? diantara dikejar dan ditunggu kali... berusaha mendapatkan yang terbaik... tetapi tidak menunggu pasrah tanpa berusaha dan berdoa... doakan semua supaya saya segera menemukan jodoh saya... :P amin...
|
 | be2ny wrote on Jul 31, '06 |
 | wah, pak ustad tau aja klo saya udah kepingin nikah.... =) |
 | hmmm......*berpikir serius* saya milih...... "Atau" aja deyh :) |
 | nunggu aja ahhh ntar juda dateng sendiri :) *pasrah.com* |
 | dikejar malah lari menjauh, gak dikejar malah mendekat..., gimana dong...... :D |
 | yg sudah berjodoh, gimana? |
 | the more you ignore me, the closer i get... |
 | Hmmm....itu artinya nungu atau nyari yah mba? |
 | wah pak...
ada yang jadi masalah niy....
"ama siapa"
hehehehe....
nungguin yang mo taaruf dan sowan ke rumah mama aja...
dan pastinya dapet restu dr bapak+Mama.... hehehehe...... =) |
 | euleuh euleuhh.. ngebahas jodoh euy, kabita euy..  |
Comment deleted at the request of the author.
 | waduh maaf gak nyambung ya  maksud saya, jadi makin termotivasi utk mencari jodoh, gitu aja deh. |
 | Enaknya dikejar2 sambil di tunggu pulangnya pak...:) |
 | jodooohkuuuuu.....where r u?...i'm comiiiiiiiing !!!!!...;p |
 | pak ustad ini ngomporin terus..:D hati saya lagi frozen... |
 | kan ora et labora bekerja dan berusaha donk tentunya jadi kita cari, kejar dan kalo blm maw, tunggu saja! hihihi |
 | wikan wrote on Jul 31, '06 Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan yang ‘menawarkan’ dirinya pada Rasulullah, dan Rasul-pun tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang hina atau tabu. Hanya saja, kini kita berada pada budaya yang masyarakatnya masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak etis, sehingga perempuan-perempuan Indonesia untuk persoalan jodoh lebih banyak berperan menunggu dibandingkan ‘mencari’.  apa itu bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi di jaman Rasul, dilakukan oleh sahabat2 Rasul, tidak etis di budaya Indonesia?
jadi wanita di Indonesia memang sulit, dibatasi etika dan tatakrama yang entah dari mana asalnya. Nggak nikah2 dibilang perawan tua, nggak laku. Jadi janda dibilang janda kembang, penggoda suami orang. Sementara di jaman Rasul sendiri, wanita bisa berperan aktif dalam kehidupan, melamar dan dilamar, tanpa perlu takut dikatain sebagai wanita "gatel" atau semacamnya.
menurut saya, stereotyp2 terhadap wanita semacam ini perlu dikikis dari bumi Indonesia. bukankah Islam datang untuk jadi rahmat bagi alam semesta? kenapa budaya2 jahiliyah masih dilestarikan? |
 | apa itu bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi di jaman Rasul, dilakukan oleh sahabat2 Rasul, tidak etis di budaya Indonesia?
jadi wanita di Indonesia memang sulit, dibatasi etika dan tatakrama yang entah dari mana asalnya. Nggak nikah2 dibilang perawan tua, nggak laku. Jadi janda dibilang janda kembang, penggoda suami orang. Sementara di jaman Rasul sendiri, wanita bisa berperan aktif dalam kehidupan, melamar dan dilamar, tanpa perlu takut dikatain sebagai wanita "gatel" atau semacamnya.
menurut saya, stereotyp2 terhadap wanita semacam ini perlu dikikis dari bumi Indonesia. bukankah Islam datang untuk jadi rahmat bagi alam semesta? kenapa budaya2 jahiliyah masih dilestarikan?  heheheheheehehehe...betul, hanya caranya sekarang ada juga yang lebih halus mas wikan |
 | Mudah2an yang pengen segera nikah terkabul :) (telat reply soalnya, jadi ndak bisa coment banyak he..he..) |
 | Yups, atas nama muslimah Indonesia, meski melamar diijinkan, namun ternyata sangat sulit dilakukan. Mereka hanya berani menunggu, bukan mengejar. Jangan salahkan mereka yach..!! :-) |
 | bibo wrote on Jul 31, '06, edited on Jul 31, '06 yang pasti terus berusaha...pantang menyerah  |
 | yah..jodoh na mah harus dikejar atuh kang pangeran. upami diam saja mah...gak bakalan mampir ke kita semua |
 | Rasululah SAW bersabda :"ada 3 golongan yg wajib mendapat pertolongan Allah : 1. Jihad Fisabilillah (org yg membela/berjuang di dlm agama Allah). 2.Org yg menikah dg niat agar agama nya terjaga. 3. Budak mukatab (budak yg ingin merdeka dg cara membayar sejumlah uang tertentu). Sumber : Nasa'i juz 6 |
 | wikan wrote on Jul 31, '06 tak kan lari jodoh dikejar :)) |
 | pak..kalao kasusnya "antara di kejar-kejar dan ditunggu-tunggu" gimana atuh ;)).... kayak aye banyak yg ngejar dan nnunggu aza =)) |
 | dua-duanya udah pernah noba, tetep aja ga/belum dapet (jodoh). So, gimana donk... ;0 |
 | makasih buat artikelnya.. |
 | Jd boleh ya cewek (baca: akhwat) nembak duluan, Pak Ustadz? |
 | kejarr or tunggu..??? aku punya kasus,ada teman ku yang berjalan hubungannya sampai sekarang ini memeang dia berbeda dg yang lain walau dikatakan punya hubungan dia jauh satu sama lain.Keduanya sudah sama sama kenal dg keluarga punya niat to cepat2 walimah tp si akhwat msh menunda cos ini kuliah dulu dg harapan bisa membantu suaminya kelak kalo sudah Rumah Tangga. Pertanyaannya adalah: 1. Apakah mereka berdosa n salah pak ustad jika sudah punya niatan seperti itu?:- ya walaupun sampai sekarang ini mereka jauh... 2. Melanggar Takdirnya Allah ya pak ustad dlm penentuan jodoh? hehehe walaupun si akhwat tahu kalo calon suaminya itu ya insyaallah subhanallah pak ustad..(ich jadi Asyik nih) Trim's pak saya tunggu jawabannya Sorry kalo kepanjangan yukyayuk.... |
 | saya sudah kejar eeh dianya lari lebih cepat, saya udah tunggu eeeh dianya malah ke tempat yang lain.. saya udah ini dan itu.. eeh bingung sendiri.. hehehehe kumaha yeuh? |
 | hahahaha... dari pada ngejar yang ngga jelas.. mendingan cari di pitstop aja deh kang. Kang cepy ada, ehm, kenalan yang single-single teu? :) |
 | Ari nu single mah..banyak kang....yang udah emak-emak juga ada...sudah menjanda...hahahahahahahaha....cuman harus di selidiki dulu latar belakang dan sbg-nya.....hik..hik..hik... |
 | hihihi si akang teh meni bodor pisan... |
 | hihihihihihihi....mas adit ada dimana kini...? Jakarta, Bandung, Papua, Aceh, DN or LN.....udah siap grak yah |
 | di jakarta kang, cuma suka ke bandung .. karena orang tua di sana... suka kangen juga sama risoles bikinan nyokap. Eh iya, selidik latar belakang tuh gimana maksudnya? di interograsi gitu? hehehe... |
 | hahhaahhaaha....kira-kira be-go-no kang |
 | puyeng deh urusan satu ini pak Ustadz.. tapi kayaknya kalau gagal maning n gagal maning jadi bisa lebih tau apa yang dimau kali ya..... hehehe |
 | tapi jangan gagal maning teruzzzzzzzzzzz mba...bisa puyeng juga tuh |
| |