 "Hampir saja saya punya istri kedua". Eit, jangan marah dulu yah dengan judul diatas, khususnya teman-temanku di MP yang wanita. Coba dulu deh, kawan-kawan dan teman-teman baca kisahnya dibawah ini, baru dapat disimpulkan yah.
Memang sengaja saya naikkan kisah pengalaman dan catatan pribadi ini di Blog pribadi saya. Hal itu, tak lain hanyalah sebuah ekspresi diri atas rasa syukur pada Ilahi. Nah kawan, selamat menikmati catatan pribadi ”pangerans” ini.
Ceritanya, pagi itu, Senin tanggal 17 Juli 2006, ada pesan pendek (SMS) yang mampir di telepon genggam saya. Bunyinya pun tak asing lagi untuk saya, karena selama ini saya pun biasa mengerjakan kegiatan yang satu ini.
“Assalamualaikum ustadz Cecep. Gimana kabarnya? Saya mau minta tolong ke antum (baca; kamu/anda) untuk menemani saya taaruf (perkenalan). Bisa kan? Begitu bunyi SMS pagi ini yang saya terima dari seorang kawan dekat saya, namanya Cecep Permana, 29 tahun.
Maka, saya pun menjawab SMS yang masuk itu. “Alhamdulillah baik. Insya Allah saya bisa nemenin untuk taaruuf. Taaruf dengan siapa? Maka dijawab oleh teman saya, “Taaruf dengan keluarganya akhwat (baca; wanita). Bisa kan? Maka pertemuan dan janjian pun dilakukan antara saya dan teman saya itu.
Saat bertemu muka dengan Cecep Permana (kawan saya) di rumah kontrakan saya, maka meluncurlah pertanyaan dari saya. ”Memangnya kenapa antum (kamu) minta antar taaruf sama saya?,” tanyaku kepadanya. Maka, dijawablah sama kang Cecep Permana pertanyaan saya itu. ”Kata pembina saya di pengajian, saya diminta untuk menghubungi Pak Cecep (baca; Cecep Yusuf Pramana) untuk nemenin taaruf dengan keluarga akhwatnya (baca; wanitanya). Apalagi keluarga yang akan ditemui dari suku sunda, tepatnya dari daerah Sukabumi. Nah, makanya saya diminta ketemuan sama Pak Cecep (baca; Cecep Yusuf Pramana)
Singkat cerita, datanglah saya (Cecep Yusuf Pramana, 36 tahun) bersama kawan saya, Cecep Permana, 29 tahun, ke rumah keluarga sang calon. Namanya cukup singkat, Cendana. Dia biasa disapa Nana, usia 27 tahun, anak pertama dari 4 bersaudara. Ayahnya bernama Adi Sumpena, usia 52 tahun, sedangkan ibunya bernama Nuraini, 47 tahun. Mereka berdua berasal dari Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.
Setelah sebelumnya, perkenalan singkat dilakukan oleh kami berdua bersama keluarganya Nana. Selanjutnya, obrolan pun dilanjutkan dengan perkenalan yang lebih mendalam dan menukik lebih tajam lagi. Saat perkenalan dengan keluarga Bapak Adi Sumpena dan Nana digulirkan, pertanyaan dan jawaban pun dilontarkan, baik oleh saya berdua (Cecep Yusuf Pramana dan Cecep Permana) maupun dari keluarga besar Nana.
Dari awal taaruf (perkenalan) dengan keluarga Nana hingga akhir, saya terus yang selalu diperhatikan, dilihat dan disapa, baik oleh keluarga besar Bapak Sumpena maupun Nana sendiri. Sedangkan, teman saya, Cecep Permana menurut kacamata pribadi ternyata termasuk ikhwan (baca; pria) yang pendiam, artinya dia tidak banyak bicara, bicara hanya seperlunya saja. Cecep Permana hanya menjawab apa yang ditanya saja, selain itu dia pun hanya diam seribu bahasa. “Dalam hati kecil, “kok yang mau nikah, diam saja yah,” ujarku.
Sedangkan saya (Cecep Yusuf Pramana), baik ditanya maupun nggak ditanya, terus saja mulut ini maunya bicara, nyerocos dan nggak mau berhenti. Maklum, karena saya bertemu dengan keluarga yaang ternyata masih kerabat jauh dari keluarga besar bapak saya. Makanya saya cocok dan pas saja untuk ngobrol dengan keluarga Pak Adi Sumpena.
Setelah hampir selama dua jam kami berdua taaruf dengan keluarganya Nana, ngobrol hingga prasmanan dan makan malam. Maka, jawaban dan hasil yang ditunggu-tunggu kami berdua meluncur dari orang tua, Nana sendiri serta keluarga besarnya.
Namun, kami berdua sangat kaget atas jawaban dari Pak Adi Sumpena dan Nana maupun keluarga besarnya, terutama saya sendiri, Cecep Yusuf Pramana. Apa dan kenapa saya terkejut mendengar penuturan keluarga besar Pak Adi Sumpena. Ceritanya, setelah kami berdua makan malam bersama mereka, lalu keluarga besar Nana memanggil kami berdua.
”Nak Cecep, (yang dimaksud saya, Cecep Yusuf Pramana) setelah kami sekeluarga dan Nana berbicara,” kata Pak Adi Sumpena sambil menengok ke keluarga besarnya termasuk Nana yang duduk di dekat sang ibundanya. ”Kami semua setuju, menerima nak Cecep (sambil melihat ke arah saya) menjadi calon menantu dan suami Nana,” lanjut Pak Adi Sumpena. ”Begitu pula dengan anak kami, Nana. Nana juga setuju jika nak Cecep (sambil melihat ke arah saya) jadi calon suaminya. Terus kapan nak Cecep (baca; Cecep Yusuf Pramana) akan datang bersama keluarga untuk khitbah (melamar) anak kami, Nana.
Nah, teman-teman, sampai disinilah kata-kata dari keluarga besarnya Nana yang membuat saya terkejut dan hampir berhenti detak jantung saya. Teman-teman MP, jika saja tidak saya ceritakan siapa dan yang mana yang akan jadi calon mantu dan suami Nana, maka saya pun akan menjadi calon suami dan mantu dari keluarganya Nana (hahahahahahahahaha...seandainya? namun saya tidak mau berandai-andai).
Begini ceritanya, teman-teman. Setelah ucapan Pak Adi Sumpena yang mewakili keluarga Nana berbicara, ”Kami semua setuju, menerima nak Cecep (sambil melihat ke arah saya) menjadi calon menantu dan suami Nana,” lanjut Pak Adi Sumpena. ”Begitu pula dengan anak kami, Nana. Nana, kata Pak Adi Sumpena setuju nak Cecep (sambil melihat ke arah saya) jadi calon suaminya. Makanya terasa ada yang ganjil dan aneh dari yang dibicarakan.
Sambil hati ini berdegup kencang, dag..dig..dug, dug..dig..dag, maka saya pun angkat bicara. ”Maaf pak Sumpena, yang dimaksud Cecep disini oleh bapak itu siapa yah?,” tanya saya kepada pak Adi Sumpena. Yang ditanya dan keluarganya pun tak kalah kebingungan, ketika saya bertanya demikian.
”Loh, kok nak Cecep bertanya seperti itu,” sergah Pak Adi Sumpena. ”Bukannya, nak Cecep ini (yang dimaksud saya, Cecep Yusuf Pramana) yang mau menikah dan jadi calon suami dari anak saya Cendana dan juga calon mantu saya,” lanjut Pak Adi Sumpena. Memangnya, nak Cecep (maksudnya Cecep Yusuf Pramana) jadi gak siap dan kurang cocok dengan anak saya, Nana.
Innalillahi...weeee...ladalah, ternyata calon mertuanya Cecep (baca; Cecep Permana, kawan saya) salah sangka dan gak tahu, kalau calon mantunya itu bukannya saya (Cecep Yusuf Pramana) tapi Cecep Permana, yang selama taaruf hanya diam saja, kecuali ditanya. Begitu pula dengan Cendana atau Nana yang salah sangka dan gak tahu. Ternyata, Nana juga hanya menerima biodata ikhwannya (baca; pria) dari pembinanya tanpa fotonya Cecep Permana.
Menurut Nana, dia hanya tahu nama yang akan taaruf dengannya bernama Cecep. Ehhhh...ternyata yang datang kehadapan keluarga besarnya, dua-duanya bernama Cecep. Sama-sama berjenggot dan cambang (baca; brewok), namun bedanya jenggot dan cambang saya tipis dan terawat, sedangkan kawan saya Cecep Permana, jenggot dan brewoknya cukup lebat. Nah, mungkin inilah yang membuat keluarga besar Nana maupun Nana sendiri melihat saya.
Menurut informasi dari Nana, pembinanya mengatakan, kalau yang namanya Cecep itu orangnya aktif bicara (baca; banyak ngomong...hehehehehe), juga orangnya simpatik, enak diajak ngobrol serta ehemmm..ganteng dan cakep (aduh..jadi grogi sendiri saya). Makanya Nana dan keluarga besarnya percaya dengan pembinanya. Dan ternyata, memang betul adanya yang terlihat, saat taaruf (perkenalan) berlangsung yang banyak bicara dan terlibat aktif adalah memang saya.
Jadilah mereka mengira saya lah (baca; Cecep Yusuf Pramana) calon suami Nana dan mantu dari keluarga Pak Adi Sumpena, ditambah lagi kawan saya Cecep Permana, memang ternyata tidak banyak bicara kecuali ditanya. Nah, teman-teman, jadilah kejadian itu membuat hati saya dag..dig..dug dan panas dingin dibuatnya (heheheheehehee..padahal sih...? Ya..ya..ya).
Setelah itu, saya angkat bicara. ”Maaf pak Sumpena sekeluarga, Ibu, uwak, mamang, bibi dan Nana. Sebenarnya yang akan menikah adalah kawan saya ini (sambil menunjuk Cecep Permana) bukan saya. Nah, saya hanya mengantar Cecep Permana saja untuk taaruf (perkenalan) dengan Bapak sekeluarga,” cerita saya kepada mereka. Sedangkan, saya sendiri sudah menikah dan punya 3 orang anak, sambil menceritakan nama anak pertama, kedua dan terakhir kepada keluarga besar Nana.
Nah teman-teman, jadi saya cukup kaget, ketika ditanya kapan nak Cecep (baca; Cecep Yusuf Pramana) akan datang bersama keluarga untuk khitbah (melamar) anak kami, Nana. Setelah saya jelaskan, bahwa yang akan menikah adalah Cecep Permana, kawan saya itu. Melalui pendekatan komunikasi yang optimal kepada keluarga besar Nana, akhirnya mereka pun setuju dengan Cecep Permana dengan ikhlas sebagai calon suami dari Nana dan mantu dari keluarga besar Pak Adi Sumpena.
”Nak Cecep (baca; Cecep yusuf Pramana), setelah kami bicarakan bersama keluarga, juga Nana, kami semua menerima dengan ikhlas nak Cecep Permana sebagai calon suami dari Nana. Namun, kami juga sekeluarga secara jujur menerima nak Cecep Yusuf Pramana jadi bagian keluarga kami,” tutur Pak Adi Sumpena. ”Itu juga jika nak Cecep mau dan bersedia,” tambahnya. ”Insya Allah, saya mau dan bersedia jika keluarga ini menganggap saya bagian dari keluarga besar Pak Sumpena,” ujar saya kepada mereka.
Nah, teman-teman, itulah sekelumit cerita pribadi saya dalam menemani acara taaruf seorang teman di daerah Cinere, Depok. Akhirnya, saya pun merasa lega, setelah peristiwa yang mengejutkan saya itu. Namun, tetap saja Pak Sumpena bercanda dan meledek kepada saya (setelah minta izin ke teman saya Cecep Permana) dengan kata-kata, ”Kalau tadi saya nggak keliru, jika nak Cecep belum menikah, kira-kira kalau saya ajukan nak Cecep dengan anak saya Nana, nak Cecep bersedia gak? Waaaahhhhhhhhhh.....saya jawab saja dalam hati ini...yah mau donk, kalau belum menikah sih (hehehehehehe).
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah (mudah-mudahan ada pada pasangan Cecep Permana dan Cendana). Pernikahan mereka nantinya, bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai.
Itulah mereka yang telah mewujudkan pernikahan ruhani. Yang selama ini terngiang-ngiang dibenak mereka berdua terjawab sudah “Kalau kita berkualitas di sisi Allah, pasti yang akan datang juga seorang (jodoh untuk kita) yang berkualitas pula.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula engkau peristrikan wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikanlah wanita atas dasar Diennya (agamanya). Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)
Firman Allah SWT, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS An Nisaa’: 3)
Nah, teman-teman, jika kita tidak bisa dan takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahi (kawini) seorang saja. Bagaimana pendapat dan sharing teman-teman mengenai hal ini.
  | duuuh..bingung bacanya namanya cecep semua :) |
 | hmmmm.... hmmmm.....
hihiihi.... *bedanya cumaper-dgn pra-* |
 | Hehehe.. habisnya namanya sama sih.. makanya yang didatangi juga bingung kali Pak hehehe :-) |
 | yah...sy msh muda u/ kisah setinggi ini... kynya pendapat sy adalah...ya gitu deh (^_^) hi3x |
 | namanya bisa mirip bgt yah... |
 | hahaha... untung pak cecep Yusuf Permana bukan tipe yang main embat 'prospek' orang, jadinya temen pak cecep yang namanya cecep juga akhrinya menemukan tambatan hatinya walaupun stlh proses yang bikin deg-deg plas hehehe |
 | Pak..pernikahan itu adalah level paling tinggi yg blum sy tatap, "silau" bgtz abis enaknya tuh aksi, kuliah, organisasi, ngajar, n maen playsyaiton he3x ..pokoknya sy suka bgtz being alive like this DULU (ya entah 3 taun ke depan) |
 | Makasih Pak atas sharingnya. Alhamdulillah, pagi2 sudah bisa tertawa membaca kisah ini. Semoga Pak Cecep Permana dan Pak Cecep Pramana dikaruniai keluarga yg sakinnah, mawaddah, wa rahmah, amiin [-o< |
 | Wa..sharingnya boleh juga nih.. secara aku jg masih harus banyak belajar...
|
 | Walah... sebagai kaum wanita, melihat judulnya saya hampir manyun. Tapi begitu baca semuanya... kembali deh kebentuk semula he he he....
Saya setuju, kalau memang ngga bisa berlau adil... mending cukup seorang saja dan fokus untknya.... ini mungkin bukan saya saja satu2nya wanita yang menghendaki demikian. Tapi insyaallah kebanyakan kaum wanita ingin menjadi satu-satunya pendamping bagi belahan hati. Kalo satu kursi untuk banyak wanita jadi sempit.... Kecuali kursinya bangku kayu yang panjang... he he. Bukannya ngga mau surga loh mas Cecep... |
 | walah2.. ngebaca judulnya kirain mau poligami Kang... ;p ternyata.. hanya kesalahpahaman di keluarga calon istri... hhhmmm... btw.. masih cukup satu kan Kang..?? atau ada rencana nambah lagi nich.. tapi inget.. harus bisa adil... (it's the hardest part.. coz we're just merely humans...) |
 | waduh...saya terkesima, aduh Pak Ustadz saya juga pingin di temenin..atuh...
*jadi pingin japri*
konsultasi tentang banyak hal..:) |
 | subhanallah..kumaha tanggapan istri sewaktu tau cerita ini? :D |
 | bibo wrote on Jul 26, '06 Harusnya waktu memperkenalkan diri jangan pake nama cecep pramana, tapi pake nama gaulnya dong...'cepypram'... he...he....
*untunglah nama kita beda, jadi aman dong kalau..... |
 | dtsiq wrote on Jul 27, '06 Biasanya sih laki2 kalo yang gini ngga nolaaak... |
 | zee2 wrote on Jul 27, '06 |
 | agne5 wrote on Jul 27, '06 Adil ukuran manusia sama Allah itu beda... manusia cuma bisa BERUSAHA UNTUK ADIL... sedangkan keadilan yang sempurna cuma milik Allah... makanya laki2 kalau mau menikah lagi yakinin dulu dirinya sendiri bisa adil nggak... kalau adil yang sifatnya kasat mata, bisa dilihat dan diukur sih masalah gampang... yang susah itu adil dalam perasaan dan pikiran... ^_^... dan yang pasti laki2 yang istrinya lebih dari satu itu punya tanggung jawab yang jauh lebih besar disisi Allah dibanding yang istrinya satu... nah sanggup nggak memikul tanggung jawab yang lebih besar ini...??? Laki-laki punya keistimewaan dengan boleh memiliki istri lebih dari satu... tapi bersama itu besar pula pertanggung jawaban yang akan diminta oleh Allah ^_^ |
 | harusnya saat itu mas cepy jangan pake nama cecep....pake nama pangerans donk...jadinya gak ketuker hehehehehehe.......*pernah juga anterin temen untuk taaruf* |
 | hehehe..kocak juga ceritanya. untung keluarga nana langsung nerima..kalo keukeh mau sama yg ini (red:mau dipoligami) kan pusiiingg ..hayooo :D. |
 | jadi bahan pertimbangan tulisannya :)
|
 | kata "hampir" itu, berarti udah ada niat poligami dunks ya...:) |
 | hahahahaaaaaaaaaaaaaa...ngikik gak karuan nih di kantor jadinya...
sampe promosi ke temen sekantor suruh baca abis lucu...bikin seger di sore hari...
Thanks Kang Cecep... |
 | pak, asaya punya temen namanya 'cecep' jg, wah bisa jadi sarana mendapatkan 'istri ketiga' neh... (hihih.. ;-) ) |
 | namanya mirip banget, wajahnya mirip juga gak ya , mas?
|
 | nonot wrote on Jul 27, '06 Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS An Nisaa’: 3)  Ceritanya menarik..terimakasih udah membagi cerita...:D Ini sebenarnya udah jelas ya Pak Cecep Yusuf Pramana (biar gak salah lagi..) Tapi kenapa banyak laki-laki yang 'memaksakan' untuk mempunyai 2 istri atau lebih? |
 | hahaha... seru ceritanya Pak:-)) untung imannya masih kuat yak, klo enggak... wah... bisa tambah seru ceritanya:-)) kebayang deh cecep yang satu bisa gimana... gitu...:-)) |
 | Waduh Pak Cepy, tadinya saya males buka postingan ini, tapi akhirnya penasaran jg :D. Oiya, saya jg punya cerita...ada ikhwan yg mo taaruf, dianterin suami murabbiyah (baca = guru ngaji) saya. Tapi, murabbiyah saya ikutan nganter jg. Nah, habis ngobrol2, keluarga akhwat yang ditunjuk (yang dikira n diharapkan) suami murabbiyah saya. Walah...gak kebayang dech gmn perasaan murabbiyahku saat itu :-( Laen kali musti hati2 ya...kasian jg kalo jd ada yg berandai2..hiks :-) |
 | Wah-wah....penasaran sih tapi kayaknya seru juga. Salah orang bisa fatal lho..hehehehehe Thx buat pelajarannya |
 | im4y wrote on Jul 27, '06 hahahaa.. lucu... makana.. besok lagi, klo nemenin ta'arufan gitu, kenalin dulu secara detail.. dunk, biar ga kliru :P |
 | im4y wrote on Jul 27, '06 iyahhh deh...siapa lagi yah yang minta ditemenin taaruf....ayo daftar....  ga brani ndaftar ahhh.. hihii.. |
 | wikan wrote on Jul 27, '06 lain kali kalau nganterin temen yang mau taaruf yang namanya cecep juga, musti dijelasin dari awal siapa yang mau mengkhitbah biar gak salah sangka |
 | wikan wrote on Jul 27, '06 emang dulu pak cecep mengkhitbah istri sendiri bagaimana? bisa cerita? (apakah grogi juga? he he ...) |
 | im4y wrote on Jul 27, '06 maksudnya...yang pria, bukan wanitanya...waduh, kalau yang wanitanya...sih..bisa runyam saya...hehehehehehehe, hatur nuhun mba  hitulah.. makanya ga brani hehee.. sami2.. :) |
 | fetryz wrote on Jul 27, '06, edited on Jul 27, '06 He he... Ya Rabb, saya sampai ketawa baca cerita ustadz =)... Lucu... (orang sunda, orang sunda (iya kan???).. saya juga maksudnya..^_^)..
Subhanalloh untuk hadist:
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula engkau peristrikan wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikanlah wanita atas dasar Diennya (agamanya). Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)
Sunnah Rasul memang nyata penerapannya... Subhanalloh.... =)
|
 | hahahahaa.........lucu amat siiihhhh........ lagian kok ya temennya kang Cecep itu (si calon menantu) diem aja... jadi salah sangka deh tuh. thanks ya dah sharing :D. salam kenal - mamaFaiz |
 | lol ;) lucu juga pengalamannya Pak! wah, saya hrs ancang2 nih nanti kalo ta'aruf jangan sampe timbul kasus kaya gini lageh he..he..he.. |
 | wah lucu banget ... abis namanya sama seperti pinang dibelah kampak hahaha :p .... Cecep Permana dengan Cecep Pramana ..... :) |
 | ha...ha...ha...ha...ternyata... |
 | wahhh... namanya cecep semua... wajahnya jg mirip ya... btw, jangan2 ada niat poligami ya *nglirik judulnya* |
 | heheheheheheheheehee...jadi mau nyari lagi yang kelima...D:))))))) |
 | Haaaaaaaaa....yang kelima? kedua ajah masih tanda tanya? |
 | hahahahaha...mangkanya tuh nama jgn samaan juga, jd bikin liuer hahahah =)) |
 | hahahaha... mungkin lain kali harus disertakan photo ya, biar tidak salah liat. Alhamdulillah keluarga akhwatnya mau menerima cecep yang satu lagi. kalo tidak kan bisa panjang urusannya, ya kang. dimaklumlah, pan nama cecep teh identik dengan orang sunda. jadi kaharti lah kalo bisa salah tunjuk. hehehe... |
|
|