 Hari ini, sedianya saya diminta mengisi pengajian waria dengan tema “Ibadah Kepada Allah”. Namun, saat saya tiba di lokasi pukul 07.35 WIB, pimpinan Majelis Taklim Nur Rahmah, mas Wawan dan mas Ade.
Ustadz Asep, kata mas Wawan, maaf nih baru ngabarin sekarang kalo ada perubahan tema. “Memangnya kenapa mas Wawan,” tanyaku padanya. “Soalnya teman-teman disini ingin tema yang menyentuh kepribadian lelaki kami,” ujarnya.
“Materi Lekong…gitu, ustadz,” sahut mas Ade yang diamini mas Aji dan Dadan. Saya pun terdiam sesaat. Lee..kong, kataku dalam hati. Ha..haa..haaa, si ustadz bingung keliahatannya De! “Ustadz, belum ngerti Lekong,” ujar Dadan kepada mas Ade.
“Ustadz Asep, Lekong itu artinya lelaki. Lelaki sejati gituh, ustadz,” kata Dadan. “Yah kayak Pria Sejati…entuh (baca; pria sejati itu). Ohhhh…lelaki sejati, sahutku yang diamini mereka.
“Waduh…berubah nih jadwal temanya,” ujarku dalam hati. “Mana belum ada persiapan tentang materi itu lagi,” lanjutku. Mau nggak mau, saya pun mengiyakan saja tema yang diajukan mereka, walaupun dalam hati kecil bingung juga harus dimulai dari mana.
Dalam kebingunganku ini, suara mas Wawan terdengar. Bingung yah ustadz? “Ah nggak kok mas Wawan. Hanya, jadi belok ajah nih materinya. Tapi akan saya coba kembangkan nanti diskusinya yah Wan,” sahutku kepada mas Wawan.
Maka dimulailah acara pengajian hari ini tepat pukul 08.00 WIB tepat. Dimulai dengan tilawah quran surat An Nisaa’ ayat 1 (sesuai permintan saya kepada mas Wawan). Maka mulailah tilawah surat An Nisaa’ ayat 1 itu oleh mas Yudi dan saritilawah sama mas Ade.
Bunyi surat An Nisaa’ ayat pertama itu adalah; “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’: 1)
Setelah tilawah dan saritilawah, dilanjutkan oleh mas Wawan selaku panitia yang memberikan informasi dan wejangan. Mas Wawan itu, kini sedang berusaha menjadi lelaki sejati lagi. Pria sejati..man.
Selanjutnya, tepat pukul 08.15 waktu Indonesia Barat, saya pun diminta berbicara tentang “Lelaki Sejati/Pria Sejati”. Wuih…baru kepikiran nih, kalau saya diminta bicara Pria Sejati. Tapi, Bismillah, satu kata dalam diri saya. Majuuuuuuuuuuu terus pantang mundur (hehehehehehe). Setelah bebicara tentang Pria dan Lelaki Sejati yang hanya sekitar 45 menitan itu dilanjutkan dengan tanya jawab.
Nah saat tanya jawab inilah, banyak yang nanya bertubi-tubi, namun hampir sama pertanyaannya. Kebanyakan mereka nanya tentang puasa bagi yang suka ganti status, khuntsa (kelamin ganda) dan tentunya waria (laki-laki).
Saya pun memberikan jawaban tentang khuntsa (kelamin ganda). Di antara sekian banyak fenomena di dunia ini, ada sedikit kasus di mana seseorang memiliki kelamin ganda. Artinya dia memilki kelamin laki-laki dan kelamin wanita sekaligus.
Dalam masalah ini, Islam sejak awal dahulu telah memiliki sikap tersendiri berkaitan dengan status jenis kelamin orang ini. Sederhana saja, bila alat kelamin salah satu jenis itu lebih dominan, maka dia ditetapkan sebagai jenis kelamin tersebut.
Artinya, bila organ kelamin laki-lakinya lebih dominan baik dari segi bentuk, ukuran, fungsi dan sebagainya, maka orang ini meski punya alat kelamin wanita, tetap dinyatakan sebagai pria. Dan sebagai pria, berlaku padanya hukum-hukum sebagai pria. Antara lain mengenai batas aurat, mahram, nikah, wali, warisan dan seterusnya.
Dan sebaliknya, bila organ kelamin wanita yang lebih dominan, maka jelas dia adalah wanita, meski memiliki alat kelamin laki-laki. Dan pada dirinya berlaku hukum-hukum syariat sebagai wanita.
Namun ada juga yang dari segi dominasinya berimbang, yang dalam literatur fiqih (maaf jika salah menyebutkan), disebut dengan istilah "Khuntsa Musykil". Namanya saja sudah musykil, tentu saja merepotkan. Pasalnya, kedua alat kelamin itu berfungsi sama baiknya dan sama dominannya. Untuk kasus ini, dikembalikan kepada para ulama untuk melakukan penelitian lebih mendalam untuk menentuakan status kelaminnya. Namun kasus ini hampir tidak pernah ada. Bahkan “Khuntsa Ghairu Musykil” pun hampir tidak pernah didapat.
Untuk orang yang berpuasa, sementara status dia suka berubah. Jika siang dia laki-laki sedangkan jika malam tiba dia menjadi perempuan dan sebaliknya. Rasulullah SAW pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh Malaikat. Di antaranya adalah Pertama, laki-laki yang memang oleh Allah SWT dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan bahkan bertingkah laku seperti perempuan.
Kedua, yaitu perempuan yang memang diciptakan Allah SWT sebagai perempuan. Namun kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadits Riwayat Thabarani).
Perilaku yang seperti ini disebut dengan istilah Takhannuts (maaf jika salah ejaannya), yaitu berlagak atau berpura-pura jadi khuntsa (orang yang memiliki dua jenis kelamin), padahal dari segi fisik dia punya organ kelamin yang jelas. Sehingga sama sekali tidak ada masalah dalam dalam penentuan jenis kelaminnya.
Memang ada sebagian mereka yang melakukan operasi kelamin, tapi operasi itu sifatnya cuma aksosris belaka dan tidak bisa berfungsi normal. Karena itu operasi tidak membuatnya berganti kelamin dalam kacamata syariat. Sehingga status tetap laki-laki meski suara, bentuk tubuh, kulit dan seterusnya mirip wanita.
Rasulullah SAW pernah mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan. Di samping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya.
Sejahat-jahat bencana yang akan mengancam kehidupan manusia dan masyarakat, ialah karena sikap yang abnormal dan menentang tabiat. Sedang tabiat ada dua: tabiat laki-laki dan tabiat perempuan. Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri. Maka jika ada laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan bergaya seperti laki-laki, maka ini berarti suatu sikap yang tidak normal dan meluncur ke bawah.
Rasulullah SAW juga melarang laki-laki memakai pakaian yang dicelup dengan 'ashfar (zat warna berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu). Ali r.a. mengatakan: "Rasulullah SAW pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutera dan pakaian yang dicelup dengan 'ashfar" (Hadits Riwayat Thabarani)
Ibnu Umar pun pernah meriwayatkan: "Bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan 'ashfar, maka sabda Nabi: 'Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.'"
Selanjutnya pertanyaan tentang Waria (laki-laki). Saya pun menjawa dengan hati-hati. Pasalnya, kawan, saya berada di sarangnya Waria. Namun saya jawab juga pertanyaan itu. Bila kita perhatikan, maka waria itu umumnya adalah laki-laki. Maka mereka punya kewajiban seperti laki-laki dalam agama Islam, seperti wajib shalat Jumat, mencari nafkah, menikahi wanita, disunat, tidak boleh bercampur baur dengan wanita dan seterusnya.
Waria (baca; bencong, banci) harus bertobat dari perilakunya yang dilarang Allah SWT. Dia harus berpuasa Ramadhan sebulan penuh. Bahkan tidak ada haidh buat mereka karena secara sistem tubuh dia adalah laki-laki. Berperilaku sebagai waria tidak menggugurkan kewajiban puasa Ramadhan. Bahkan bila dia meninggalkannya dengan sengaja, maka dia berdosa dan wajib menggantinya di hari lain.
Apakah pahala puasanya akan diterimanya? Semua itu kembali kepada Allah SWT, sebab segala urusan ibadah puasa itu kembali kepada Allah SWT, Dia lah yang akan menentukan apakah pahala puasa seseorang akan diterima atau ditolak. Yang jelas buat manusia, kewajiban berpuasa itu tetap ada dan harus dikerjakan.
Nah, kawan-kawan, selamat membaca yah. Doakan juga agar mereka bisa jadi Pria Sejati. Hatur nuhun
Cecep Yusuf Pramana
  | Amien, semoga saja meskipun mungkin tidak 100%. |
 | Teruskan perjuangannya mas Cepy...insya Allah balasan untuk antum berlipat ganda disana nantinya. Salam kenal ya |
 | agne5 wrote on Jul 22, '06 Teruskan perjuangannya Mas ^_^, semoga Allah senantiasa membantu Mas Cepy dalam perjuangan ini ^_^ |
 | Semoga setiap langkah mas cepy diberi lindungan Alloh SWT.......... |
 | Amien, turut mendukung agar populasi kaum "yyyyuuukkkk" kian berkurang..hehehe (eh ladalah, aku sendiri juga suka niruin kata-kata itu, lucu sih) |
 | adijm wrote on Jul 22, '06 Pengalaman unik kang Cepy. Memang mesti ada yang membimbing mereka ... Semoga kang Cepy mendapat taufiqNya dalam menyampaikan Islam kepada mereka. |
 | Syukron Pak Cepy, dah bagi ilmunya. Pas banget hbs ada yg nanya maslh spt ini..request materi boleh gak? hehe..masalah kepribadian ganda, gmn menurut Islam? kaya si Billy (24 kepribadian Billly)..Lah kok jd konsultasi..:-) |
 | Pak, fenomena ini bagus u/ dilestarikan...ketika Islam berjaya, maka semuanya mendapatkan hak di-Tarbiyyah dgn nyaman. Tapi u/ segmen waria, sepertinya kita2 msh hrs belajar metoda dakwahnya dulu ni. |
 | menarik ceritanya mas cepy! :) |
 | wikan wrote on Jul 22, '06 waria juga manusia, harus didekati dengan cara2 yang manusiawi juga ... |
 | waw, keren juga... umm, kapan2 kalo Allah mengizinkan, kang cepy mau yah ngisi ta'lim di kampus ana ^_^ tapi kayanya bukan tentang lekong sejetong, kekekekek... terus berjuang ya pak ustadz |
 | oia, lupse bgtz gitulho : maksud sy KITA2 MSH HARUS BELAJAR...dst, itu untuk saya+tmen2 (KITA) yg blum terjun ke sana...punten |
 | urfie wrote on Jul 22, '06 Subhanallah.. pengalaman yang unik pak ustadz, makasih sudah sharing. Jadi terharu, ternyata masih banyak di antara mereka yang pengen jadi lebih baik. Mudah-mudahan dimudahkan jalannya.. |
 | Assalamualaikum Aa Cepy .... alhamdulillah bisa belajar banyak dari Aa Cepy |
 | hayoo kang cepy, semangat..siapa tau kang cepy jadi ikon nya ustadz sejuta lekong hehe.. |
 | tengkiu nih Mas buat sharenya, aku yg baru aja belajar menjadi muslimah (sejak thn 2003) dapat pencerahan nih. ok, maju terus Mas Cepy.. |
 | Ehmmm masih penasaran sama reaksi saudara kita yang waria akan jawaban dalam diskusinya. Kapan nyambung? syukron |
 | jemaahnya kang cepy ada yang ikut MP gak, seru juga kalo mereka share disini mengenai perjuangannya kembali ke jalan yang benar. maju terus kang! |
 | tambah satu lagi ustadz di keluarga MP-ers... Pakde Nono, kalo ntar pak cecep ke kotamu, dibajak aja buat ngisi kajian. Dijamin seru deh... Pak Cecep, siap-siap didaulat buat ngisi kajian di kumpul-kumpulnya anak-anak MPers ya.... |
 | Selamat berdakwah terus pak ustadz, smoga semakin banyak orang yang kembali ke jalan-Nya, Amin! |
 | lagi lagi nih pak cepy, saya minta ijin kopi past ya ustadz... jzk.:) |
 | Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Syukur alhamdulillah di jaman sekarang ini masih ada yang mau berubah ke arah yang lebih baik, tidak tenggelam dalam kesia2an. Semoga makin banyak waria yang kembali ke jati diri yang sesungguhnya, setelah mendegarkan dakwah dari akang, dan semoga amal ibadah kang Cepy mendapat pahala berlipat ganda dari 4JJI, SWT, amin...
Kang, ada yang mau saya tanyakan niy... Mengutip tulisan akang di atas: "Memang ada sebagian mereka yang melakukan operasi kelamin, tapi operasi itu sifatnya cuma aksosris belaka dan tidak bisa berfungsi normal. Karena itu operasi tidak membuatnya berganti kelamin dalam kacamata syariat. Sehingga status tetap laki-laki meski suara, bentuk tubuh, kulit dan seterusnya mirip wanita." Apa yang harus kita lakukan bila suatu saat beribadah bersama dengan org yg sudah operasi plastik, katakanlah, sholat berjamaah misalnya. Apakah wudhu kita menjadi batal dan sholat kita tidak sah? Dan bagaimana kita harus bersikap terhadap org tersebut dalam kehidupan sehari2, mengingat hakikatnya tetaplah seorang pria, berarti org tsb bukan muhrimnya kita. Terimakasih sebelumnya.
[Hmm... jadi konsultasi gini ya? :D]
Wassalammu'alaikum Wr. Wb.
|
 | Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Syukur alhamdulillah di jaman sekarang ini masih ada yang mau berubah ke arah yang lebih baik, tidak tenggelam dalam kesia2an. Semoga makin banyak waria yang kembali ke jati diri yang sesungguhnya, setelah mendegarkan dakwah dari akang, dan semoga amal ibadah kang Cepy mendapat pahala berlipat ganda dari 4JJI, SWT, amin...
Kang, ada yang mau saya tanyakan niy... Mengutip tulisan akang di atas: "Memang ada sebagian mereka yang melakukan operasi kelamin, tapi operasi itu sifatnya cuma aksosris belaka dan tidak bisa berfungsi normal. Karena itu operasi tidak membuatnya berganti kelamin dalam kacamata syariat. Sehingga status tetap laki-laki meski suara, bentuk tubuh, kulit dan seterusnya mirip wanita." Apa yang harus kita lakukan bila suatu saat beribadah bersama dengan org yg sudah operasi plastik, katakanlah, sholat berjamaah misalnya. Apakah wudhu kita menjadi batal dan sholat kita tidak sah? Dan bagaimana kita harus bersikap terhadap org tersebut dalam kehidupan sehari2, mengingat hakikatnya tetaplah seorang pria, berarti org tsb bukan muhrimnya kita. Terimakasih sebelumnya.
[Hmm... jadi konsultasi gini ya? :D]
Wassalammu'alaikum Wr. Wb.  waduh..pertanyaanyah susah sekali di jawabnya yah. Apakah wudhu kita menjadi batal dan sholat kita tidak sah? Insya Allah tidak, tergantung dari pemahaman fiqih yang diterima kita. ada beberapa mazhaf yang membatalkan dan ada yang tidak. Dan sikap keseharian kita, sebagaimana kita bergaul dari sisi kemanusiaannya dan memang bukan muhrim kita. mohon maaf jika jawabannya kurang pas mba, hatur nuhun
|
 | syukran ustadz... artikelnya bermanfaat... ana copy yah.. |
 | raiyani wrote on Jul 18, '07, edited on Jul 18, '07 boleh gak saya liput pengajiannya dan saya publikasikan? |
 | Salam, Mas boleh tahu kegiatan rutinya nggak? Dan alamat kontaknya siapa? Salam |
 | Selamat berjuan mas cecep ...ini baru benar2 laki-laki !!! |
| |