 Tepatnya, Ahad 11 September 2005 ada sebuah perhelatan unik dan sederhana. Sebuah pengajian yang boleh dibilang tidak lazim digelar.
Yup, saat itu digelar pengajian khusus waria oleh Majelis Taklim Nur Rahmah (MT khusus waria), di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Pesertanya? So pasti para waria mania. Wuah? Jumlahnya juga lumayan banyak, 27 orang dan mereka pun punya kartu tanda anggota (KTA) salah satu partai peserta pemilu.
Dan penceramahnya? Kebetulan saya sendiri. Ehm, merinding juga sih bulu kudukku. Bukan karena bertemu Mak Lampir si nenek peot itu.
Pasalnya, hal itu merupakan pengalaman pertama saya memberikan kajian ruhani untuk para waria. Pokoknya hari Ahad itu, merupakan hari bersejarah bagi saya.
Hmm...kaum waria, yang selama ini oleh sebagian besar masyarakat dipandang sebagai makhluk anomali, makhluk aneh, kini muncul dengan berani di pengajian waria itu.
Digelarnya pengajian "khusus waria" antar mereka, boleh dibilang sepertinya ingin menunjukkan identitas dirinya kepada masyarakat luas, bahwa mereka layak dihargai dan punya nurani.
Wah, wah, wah, ternyata mereka kini mulai berani membentuk pengajian. Berani tampil beda gituh. Jangan heran kawan, sebab hal ini menunjukkan mereka masih punya ruhani, walaupun masih belum kentara jelasnya.
Mereka pun bebas mengekspresikan dirinya, dan kebebasan adalah segalanya bagi mereka. Siapapun tak berhak untuk melarang seseorang dalam berbuat. Pokoknya, nafsi-nafsi dan tidak boleh cerewet bin bawel terhadap apa yang dilakukan orang lain.
Termasuk dalam soal kehidupan waria ini, menurut mereka, tak boleh dilarang. Biarkan bebas, lepas, dan jangan ada yang usil. Titik. Yach, begitulah pertemuan pertamaku dengan mereka dalam majelis taklim. Lucu yah.
Terus terang aja, awalnya saya khawatir dengan mereka para waria. Namun setelah bertemu mereka di pagi itu, semakin menambah keberanian saya untuk memberikan pengetahuan yang terbaik.
Saat kedatanganku ke tempat mereka tiba. Kuucap…Bismillahirrahmannirrahim. Tibalah saya disambut mereka yang kebanyakan memakai pakai pria bukan wanita.
Oh iya teman, hampir keseluruhan mereka bekerja di salon kecantikan atawa potong rambut khusu wanita, dan tidak ada yang memamerkan dirinya di jalan umum seperti yang kita lihat sehari-hari.
Mereka pun berujar, ”aduh ustadz nya ganteng banget deh,” ucap parjo alias merry kepada teman-temannya. “Jadi pengen duduk deket ama ustad,” sahut Yana alias memey. Wuih, hatiku sempat dak..dik..duk..der (kayak iklan salah satu sabun cuci).
“Heh…merry, memey, sahut Wawan Ketua Majelis Taklim Nur Rahmah yang menjemputku, ini ustadz Cecep bukannya pelanggan kamu di salon,” ujarnya kepada mereka berdua.
Jadilah hari itu saya memberikan ceramah di depan para kaum waria ini dengan tema “Syukur dan Nikmat”. Selama hampir dua jam saya memberikan informasi kepada mereka dan dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai materi yang disampaikan.
Dan akhirnya, saya pun menyudahi ceramah itu dengan pikiran mereka masing-masing tentang bahasan yang tadi diuraikan saya. Banyak diantara mereka yang mengangguk, ada pula yang kelihatan bengong alias ngelamun.
Lega rasanya dan plooong rasanya hati ini saat acara itu berakhir. Saat perpisahan, ada di antara mereka yang mencium tangan saya (he..he..he..kayak kyai di pesantren ajah). Namun tak terduga oleh saya, kesemua waria yang hadir pun akhirnya ikut mencium tangan saya semuanya.
Di akhir kata, saya selipkan himbauan untuk segera insyaf dan bertobat. Insya Allah masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi bila tetap betah jadi banci, berarti menghalalkan dirinya dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka pun tidak marah apa yang bicarakan. Malah, saat Ramadhan 2005 tiba mereka pun meminta saya untuk ngisi ceramah lagi.
Sejak itu, hampir setiap bulan setelah September 2005, saya pun terbiasa memberikan ceramah kepada mereka hingga Maret 2006 lalu. Saat memasuki akhir Maret 2006, ada pesan pendek (SMS) yang mampir di handphone ku.
Bunyinya, ”Ustadz Cecep, kami minta ustad bisa datang mengisi pengajian kami yang terakhir. Begitulah bunyi SMS itu. Ternyata mereka mau pindahan kampung (karena satu kampung hampir semuanya Waria) setelah pengajian terakhir ini.
Akhirnya, benar juga mereka pindah ke daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka bikin perkampungan Waria disana, yang tanahnya sudah dibeli mereka. Perpisahan pun terjadi. Sebanyak 47 orang hadir dalam acara pengajian terakhir itu.
Dan rata-rata mereka memakai baju pria, bahkan ada juga yang pakai kopeah (baca; peci). Hari itu saya sudah tidak sungkan lagi untuk berjabat tangan bahkan perpisahan dengan cara rangkulan dengan mereka. Wuihhhh.
Setelah 3 bulan berlalu dari hadapan saya tentang pengajian waria itu. Tiba-tiba Jumat, 9 Juni lalu, datang pesan singkat (SMS) di handphone saya. Bunyinya, “ustadz, setelah 3 bulan kami mencari penceramah di daerah sini, bahkan yang ustadz tunjukin juga gak ada yang bisa untuk mengisi pengajian kami,” ujar bunyi SMS itu.
Mungkin mereka para ustadz yang lain, kaget kali yah kalau yang diisi adalah waria. Akhirnya saya pun memenuhi permintaan mereka. Tak di sangka tak di nyana, ternyata yang datang 98 orang waria, saat saya datang kesana.
Nah, apa yang terjadi selanjutnya? Pastinya rame sekali. Kasak-kusuk dan bisik-bisik tetanggapun terjadi. Hehhh..kutarik nafas panjang untuk menenangkan hati ini.
Gimana nggak merinding, saat pertama bertemu 27 orang, saat perpisahan 47 orang. Kini, mereka bertambah banyak 98 orang yang datang dari beragam jenis pekerjaan. Kita doakan semoga mereka taubat dan kembali menjadi seorang lelaki sejati. Setuju kawan?
Islam, sebagai sebuah ideologi, bakalan mampu mengatasi seluruh problem kehidupan, termasuk membereskan masalah menjamurnya tren kehidupan menjadi waria (banci) ini. Islam akan menindak tegas mereka yang menyalahi kodrat dan syariat Allah ini dengan jenis sanksi seperti yang udah disebutkan di atas.
Sebab kalau dibiarkan seperti itu terus, bakalan menjamur dan menyeret orang yang normal lainnya. Bahaya bukan? Waria, oh... waria... tobatlah engkau! Sahutku dalam hati.
--- Mohon maaf kalau gak ada foto pengajian waria-nya yah dan hanya foto saya saja
  | Subhanallah...jadi ikut dag dig dug der ketika baca kisah ini...Mudah2an mereka segera insyaf ya Pak, amiin...
Trus sampe skrg mereka masih ngaji rutin sama Pak Cecep ? |
 | yuuk ... semoga mereka cepat sadar ..tapi saya heran dengan 2 orang waria yang menggunakan jilbab bahkan bikin novel .. |
 | Subhanallah.... Semoga mereka diberi kemudahan oleh Allah, Amin |
 | --salam kenal ustadz..-- [tanya] kalau dalam aturan Islam sendiri, fenomena masyarakat seperti ini bagaimana penanganannya ustadz? di masa Rasulullah sendiri apakah ada juga hal serupa? Jazakallah... |
 | ngaji rutin sih nggak mba, karena mereka pengajiannya sebulan sekali dan daerahnya duren sawit jaktim. Kosi bersedia |
 | ngaji rutin sih nggak mba, karena mereka pengajiannya sebulan sekali dan daerahnya duren sawit jaktim. Kosi bersedia |
 | sebenarnya mereka memang membutuhkan pendalaman ruhani, seperti kita juga. hanya mereka gak tahu harus nanya kemana? nanya ke ustadz, mungkin udah takut duluan. nanya ke bukan ustadz..malah merekanya yang....? |
 | Sekedar sharing, Akh. Saya pernah punya teman gay, tapi bukan waria. Tapi gayanya ya... memang sedikit ke-perempuan2an. Mungkin saking keperempuan2annya dia jadi merasa nyaman dengan saya dan kami jadi sering ngobrol. Teman saya ini awalnya takut bergaul dengan 'pengajian', karena takut dijudge yang nggak2 sebelum bahkan mulai ikutan ngaji. Tapi pelan2 ternyata dia bisa diajak dialog, dan dia lama2 tertarik ikut di pengajian2, baca buku. Pokoknya saya bilang ke dia, kalau emang ingin berubah, insya Allah pasti bisa. Yang penting usaha dan gak lupa banyak ngedeketin diri aja ke Allah. Alhamdulillah sampai saat ini sih kelihatannya dia baik2 saja dan makin shaleh... bahkan sudah punya niat untuk menikah. |
 | oh iyah Bu, jazaakillah atas informasinya, untuk bulan Juli ini saya pun masih diminta di memberikan ceramahnya dan wejangannya. |
 | Subhannallah....tetep semangat ya ustadz...Semoga mereka diberi hidayah oleh Allah SWT |
 | trim's yah atas dukungannya. semoga juga mereka tetap sadar akan kodratnya. waduh...saya bukan ustadz, hanya kebetulan gak ada yang mau ajah ngisi majelis taklim waria itu. Yah sekalian nyemplung deh bu.. |
 | Wah seru sekali pegalamannya. Saat ini tugas saya membahas tentang perbedaan antara sex dan gender dimana feminist selalu mempersoalkannya. Dari buku yang saya baca, para waria itu secara biologis tidak bermasalah yang masalah itu adalah identitas sosialnya sebagai perempuan dalam tubuh laki-laki. Trus ada juga penelitian antropologi tentang gay di Indonesia, kayaknya gay di Indonesia menurut penulis masih lebih religius ketimbang saudara mereka di Barat. Ini dibuktikan dengan adanya keinginan mereka untuk menikah sbg salah satu sunnah nabi. Saya kagum campur heran, karena 1 sisi mereka dianggap sbg org yang menyimpang tapi di sisi yang lain mereka tetap butuh siraman ruhiyah. Afwan kepanjangan nih:D |
 | wah terima kasih atas masukan informasinya..mba. salam buat teman-teman di MIIAS |
 | salut untuk semangatnya dan keikhlasannya, amin |
 | Hahhhhhh...ngisi pengajian waria...hihihihihiiiii....nggak janji deh. salut tuk pangeran |
 | ingke2006 wrote on Aug 10, '06, edited on Aug 10, '06 Kalo lewat taman lawang itu saya suka juga mikirin (dikiiiit) nasib nya para waria yang kebetulan memilih untuk 'mejeng' di pinggir jalan. Sebetulnya, kalo aja mereka tau kewajiban muslimah yang harus nutup aurat, kayaknya mereka bakal males deh milih bertransformasi jadi perempuan... Tapi dah gitu ada kasus Waria di kampus mana gitu somewhere di Jogja, emang bertekad buat pake kerudung, sebagaimana muslimah..hmm..kalo gini..jadi mikir lagi, Emang harus ada kekuatan negara ya yg ngatur...kalo diserahkan sama pribadi2nya sih..ya ngaco kali jadinya... Alhamdulillah, ada juga ya y tobat kayak''ádik2'' kajiannya Mas Pangeran...=P |
 | Alhamdulillah,kalau tidak ada lagi yang peduli dan mau menyadarkan mereka, bagaimana mungkin akan ada perubahan ke arah yang lebih baik.Maju terus, dan berhati-hatilah......... |
 | jumpmall99 wrote on Dec 13, '06, edited on Dec 13, '06 Dilingkungan saya ada waria yg bekerja di Toko sepatu yg pegawainya kebanyakan pria, alhamdulillah karena lingkungan yg kebanyakan pria itulah maka waria tersebut sekarang telah berubah menjadi pria kembali. Jadi kesimpulannya lingkungan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.
Salam kenal Pak Ustadz..... |
 | salut deh..jarang2 ada ustaz yang bersedia masuk ke "wilayah abu2" gini ya.... |
 | Mereka adalah ciptaan tuhan. ente ngisi dimana? kalau boleh ana minta nomer telp. yang bisa dihub atau alamatnya aja. nich lagi inggin mengupas keagungan tuhan. thanks.... wass kalau ente bisa sms d no 081-555-724811 |
 | Subhanallah... makasih Bang!! jadi semangat..! |
 | Jadi terharu nih pak... Pengalaman yang sangat menarik untuk dibagi. Btw salam kenal juga dari saya... Mo ngisi gesbuk ternyata ga ada gesbuknya nih hehe... Di add boleh kan pangerans? :D |
| |