Begitulah sifat generasi awal, mereka adalah “Pejuang di waktu siang dan rahib diwaktu malam”. Mereka adalah manusia-manusia yang selalu mensucikan jiwanya sehingga mereka mampu menguasai diri mereka, maka jadilah mereka pemimpin atas diri-diri mereka dan mereka tidak mau menjadi budak yang selalu didikte dalam kehidupannya. Maka Mereka terlepas dari pengaruh nafsu ‘ammarah bis su’ (yang selalu menyuruh kepada kejahatan).
Mereka selalu hiasi diri mereka dengan perkara-perkara besar, maka tak heran apabila ibadah yang paling berat menjadi sesuatu yg paling disukai. Diceritakan lebih dari satu dari kalangan mereka (generasi awal) bahwa tidak ada hal yang paling mereka sesalkan apabila mereka tinggalkan dalam kehidupan dunia ini kecuali “Puasa diwaktu terik matahari dan shalat ditengah malam”.
Itulah kesibukan mereka, mereka tidak mendapatkan kelezatan munajat kecuali melaksanakan ibadah tersebut. Salah seorang dari murid mereka yang bernama Atha’ ibn Abi Rabah berkata, “Sesungguhnya qiyamul lail itu menghidupkan badan, menerangi hati, membuat air muka bercahaya serta menguatkan penglihatan dan anggota badan, seseorang apabila melaksanakan qiyamul lail akan merasakan kegembiraan dan apabila terlewat qiyamul lailnya maka ia akan merasa sangat sedih seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga”.
Maka tidak heran kalau ibadah ini menjadi media tarbiyah yang digunakan oleh Allah SWT untuk mentarbiyah Nabi-Nya dan para pengikutnya, yang pada awwalnya ibadah ini wajib hukumnya untuk mereka. Sebab generasi pendiri tidak akan mampu melaksanakan kewajiban da’wah kecuali mereka harus mempunyai landasan yang kokoh. Inilah yang dianjurkan oleh Imam Muhammad bin Sirrin “Hendaklah kalian laksanakan
qiyamul lail walaupun hanya sesusuan sapi”.
Merindukan Malam
Kecintaan mereka kepada qiyamul lail sampai menjadikan mereka merasa sangat sedih apabila malam pergi dan siang datang. Imam Sufyan Atsauri berkata “apabila datang waktu malam aku sangat bahagia dan apabila datang waktu siang aku sangat sedih”
Abu Yazid memberitakan tentang keadaan Imam Sufyan Atsauri “bahwa apabila datang waktu pagi beliau meluruskan kakinya ke atas tembok dan meletakan kepalanya ke tanah agar darah kembali ke posisinya semula karena qiyamul lailnya yang begitu panjang”
Bagaimana mereka tidak merindukan malam, dimana saat itu Allah SWT turun ke langit dunia. Maka makin terasa kedekatan kepadaNya, semakin nikmat bermunajat kepada-Nya dan bagaimana mereka tidak rindu padahal itu merupakan salah satu cara untuk sampai ke syurga yang penuh kenikmatan.
Sebagaimana sabda Rasul SAW “Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makan dan shalatlah ditengah malam maka kalian akan msuk syurga yang penuh dengan kenikmatan
(Sejahteraan)” (HR. Imam Turmudzi). Dan bagaimana mereka tidak merindukan malam padahal qudwah utama mereka Rasul SAW telah melakukan itu sehingga kedua kakinya pecah-pecah. (HR. Imam Bukhari). Mereka berharap dapat berkumpul dengan Qudwahnya dipadang mahsyar.
Menjadi Pesan dari Generasi ke Generasi
Karena semangatnya dalam melaksanakan ibadah ini, mereka jadikan ini sebagai pesan utama dari generasi ke generasi. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Qurrah bahwa apabila selesai melaksanakan shalat isya’ ayahnya berpesan kepada anak-anaknya “Wahai anak-anakku segeralah kalian tidur mudah-mudahan Allah SWT mengaruniakan kalian kebaikan (Qiyamul Lail)”
Abu Hurairah dan keluarganya membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama ia bangun dan shalat, sepertiga kedua istrinya bangun dan sepertiga ketiga anak laki-lakinya bangun, dan mereka bergantian saling membangunkan.
Dalam hal ini Abu Hurairah melaksanakan Hadits Rasul SAW yang berbunyi “Semoga Allah swt memberikan rahmat seorang suami yang bangun malam untuk shalat kemudian
membangunkan istrinya, apabila istrinya menolak ia percikan air kemuka istrinya, semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang istri yang bangun dan shalat kemudian membangunkan suaminya, apabila suaminya menolak ia percikan air ke wajah suaminya”. (HR.Imam Abu Daud).
Belenggu Dosa
Imam Hasan al-Bashri menganggap orang yang meninggalkan qiyamul lail merupakan orang yang diharamkan dari kebaikan besar. Karena disitu ia bisa berasyik masyuk dengan SANG KEKASIH, dan bukti kemenangan diri serta bukti terlepasnya diri dari tarikan duniawi.
Dalam sebuah perkataannya ia berujar “Apabila kalian tidak mampu melaksanakan Qiyamul Lail dan puasa disiang hari ketahuilah bahwa kalian telah diharamkan dari kebaikan(red), kalian telah terbelenggu dengan kesalahan dan dosa”.
Ia menganggap dosa sebagai belenggu yang menyebabkan seseorang tidak mampu melaksanakan ibadah tersebut, maka agar mampu melaksanakannya ia harus beristighfar
dan melaksanakan taubat yang sebenar-benarnya hingga dadanya merasa lega untuk melaksanakan ibadah itu.
Maka barang siapa yang bergabung dengan kelompok Ruhbanul Lail tidak ada cara kecuali dengan menjauhi segala bentuk ma’shiat dan berusaha untuk mengalahkan nafsu. Wallahu'alam