Suatu hari, sahabat Salman Al Farisi menderita sakit dan Rasulullah SAW pun menjenguk sahabatnya yang ia beri gelar "Pemilik ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang kemudian" itu.
Rasulullah pun berusaha menghiburnya. "Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu di kala sakit", ucap Rasulullah dengan lembut kepada Salman. "Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu". Lalu, "Semoga Allah menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu datang", lanjut Rasulullah.
Ada yang menarik dari ungkapan Rasulullah di atas. Walau beliau mengatakan ada tiga pahala pada saat sakit, tetapi Rasulullah mengakhiri perkataannya dengan, "Semoga Allah menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu tiba".
Jadi, sakit itu berpahala, tetapi kita tidak boleh mengharapkannaya, apalagi mencari jalan agar sakit. Rasulullah tetap mendoakan Salman Al Farisi agar diberi kesehatan hingga akhir hayatnya.
Tapi, apabila suatu saat kita mengalami sakit, maka kita harus ingat nasihat Rasulullah kepada Salman, menggunakan kesempatan sakit untuk memperbanyak mengingat Allah, beristighfar, dan meminta kepada-Nya agar tiga pahala bagi orang yang sakit itu dapat kita raih.
Inilah salah satu konsep yang mendasar dalam Islam, agama rahmat, yang mengelola segala hiruk-pikuk dunia dengan bijak. Seorang muslim dididik untuk tidak meminta sakit, mengharap bencana, merindukan musuh dalam pertempuran, apalagi menceburkan diri dalam keburukan.
Namun, bila atas kehendak Allah semua itu harus dihadapi, umat Islam harus punya sikap dan cara pandang yang jernih dan berwibawa. Tidak ada rasa takut apalagi jadi pengecut, karena di balik kesusahan itu menanti pahala besar dari Allah.
Dengan demikian, tolak ukurnya adalah bagaimana Allah memberi kita keridhaan. Bila kita selalu sehat, selain harus bersyukur, juga mesti waspada, mungkin kita telah banyak berbuat dosa tetapi tidak pernah mendapat teguran dari Allah, atau doa kita juga jarang di kabulkan-Nya.
Sebaliknya, bila rasa sakit dan berbagai ujian lain menimpa kita, selain sabar, kita pun jangan sampai terlalu sedih. Siapa tahu itu wujud kasih sayang Allah kepada kita, agar kita dapat muhasabah diri, banyak beristighfar, dan semakin dekat kepada-Nya.
Atas dasar itulah, terkadang kita sulit merasakan, mana yang harus lebih kita syukuri, apakah dikala kita sehat dan diberi kekuatan beramal, ataukah di saat sakit ketika Allah menyadarkan kekhilafan (kesalahan) kita, menghapuskan dosa-dosa kita, dan mengabulkan doa-doa kita. Yang pasti, tidak ada yang tidak dapat kita syukuri.
Teori hidup yang diberikan Islam, sepintas lalu sulit dirasionalkan. Namun, segala kondisi yang dialami setiap mukmin, harus dibingkai dalam kerangka mencari keridhaan Allah. Sungguh mengagumkan urusan kaum muslimin.
Segala urusannya selalu baik baginya. Bila ia diberi kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan bila ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya. Wallahu’alam