Allah SWT bersumpah dengan menyebut nama-nama waktu diantaranya: “Demi Masa”. “Demi Fajar”. “Demi Matahari Sepenggalan”. Nah kawan, jika kita mengetahui Allah SWT bersumpah dengan menyebut nama waktu, hal itu berarti kita sebagai manusia diingatkan Allah agar jangan menyia-nyiakan waktu.
Kenapa kawan? Pasalnya, apabila waktu tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya, maka kerugian akan dialaminya, baik di dunia maupun di akhirat.
Kawan, waktu pun mempunyai karakteristik atau ciri-ciri tersendiri yang perlu kita ketahui. Pertama, bahwa waktu itu cepat berlalunya. Waktu itu berlalu laksana awan, dia berlari bagaikan angin, baik disaat senang maupun susah. Di waktu sedih maupun gembira.
Kedua, bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali dan tidak dapat digantikan oleh waktu sebelumnya. Setiap hari berlalu dan setiap jam lewat atau setiap kesempatan jalan, tidak mungkin akan kembali lagi atau dapat digantikan.
Ketiga, bahwa waktu adalah yang termahal yang dimiliki oleh manusia. Dikarenakan waktu itu berlalu dengan cepatnya dan tidak akan kembali lagi, bahkan tidak ada waktu pengganti yang bisa kita usahakan.
Waktu adalah kehidupan itu sendiri, yang setiap waktu berkurang. Kalau begitu, waktu adalah harta yang paling mahal dan berharga yang dimiliki oleh manusia. Dan waktu merupakan saat dan tempat untuk belanja dan merupakan modal sesungguhnya bagi manusia, baik individu maupun masyarakat.
“Wahai anak adam, sesungguhnya kamu hanyalah merupakan kumpulan dari hari-hari, setiap kali hari berlalu akan berlalu pula bagian dari umurmu.” (QS. Al-Munafiqun: 9-10).
Kawan, lalu apakah kita harus berdiam diri saja untuk melewatkan waktu yang terus berjalan? Jawabnya, tidak kawan. Kewajiban setiap individu muslim terhadap waktu pun harus kita lakukan.
Apa saja sih yang harus kita lakukan dari waktu yang berlalu itu. Pertama, menjaga manfaat waktu. Kewajiban yang utama bagi seoran muslim terhadap waktu adalah menjaganya sebagaimana ia menjaga hartanya, bahkan harus lebih dari itu.
Kedua, sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Ketiga, kita harus engisi kekosongan waktu kita dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat, baik diri maupun masyarakat. Keempat, selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Kelima, selalu belajar dari perjalan hari demi hari dan waktu demi waktu.
Selain itu, kita juga perlu dan harus mengatur waktu kita. Dan bagi tiap-tiap waktu ada aktifitas tertentu yang bisa kita lakukan. Akhirnya, kita juga harus memilih waktu yang istimewa.
Demikianlah, betapa pentingnya waktu dalam kehidupan setiap individu muslim. Salah satu dari sekian pejuang Islam dalam menegakkan nilai-nilai dakwah Islam adalah Hasan Al Banna.
Beliau mengungkapkan: “AL WAQTU JUZ’U MINAL ILAAJ” artinya waktu adalah bagian dari pengobatan/kehidupan diri kita. Yah memang, waktu adalah bagian dari pengobatan diri kita. Yang setiap harinya selalu harus diobati. “Ibda’ Binafsik”, awali kebaikan pada diri sendiri. (pangerans)