Blog EntryRumahtanggaku Adalah SurgakuJan 30, '08 11:40 PM
for everyone

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, terkadang kita terasa bahagia namun juga terkadang begitu membosankan. Seperti air laut, ada saatnya pasang dan ada saatnya surut. Ada masa tenangnya dan ada masa gelisah diterjang ombak yang kuat menghempas.

 

Bagaimana pun agungnya sebuah cinta yang dibina dan eratnya kasih sayang yang dijalin serta dipupuk, seperti juga hubungan di antara lidah dan gigi dalam mencerna makanan, walau rapat sekalipun namun sesekali tergigit juga.

 

Pertengkaran kecil atau ada rasa tidak puas hati di antara suami isteri memang perkara yang mudah terjadi. Namun, jika dibiarkan berlarut dan tidak dibendung segera, maka pertikaian kecil akan jadi besar dan akhirnya mengakibatkan kehancuran pada mahligai rumahtangga kita.

 

Seperti ombak kecil tadi, ia hanya akan mengakibatkan kapal terombang-ambing saja. Namun jika ombak sudah besar, bisa saja kapal akan ditelannya dan mahligai rumahtangga akan hancur.

 

Pertikaian atau rasa tidak puas hati jangan dibiarkan berlarut-larut. Tapi sebaliknya, hendaklah segera dibendung dan diperbaiki oleh kedua belah pihak, agar jangan sampai penyakit yang sudah parah baru dicarikan obatnya.

 

Masalah awal yang perlu dilakukan oleh kedua belah pihak adalah dengan mengkoreksi diri sendiri (bermuhasabah). Jangan ego diri di tonjolkan dan kenapa masalah itu terjadi? Renungilah dan kajilah, mungkin saja salah seorang atau keduanya punya salah

 

Sebagai contoh, saat sang suami pulang ke rumah untuk bertemu dengan isteri dan anaknya. Tentulah pulang dalam keadaan letih dan lesu setelah seharian mencari nafkah atau berdakwah di tengah masyarakat. Tanpa diduga atau disadari tiba-tiba rasa hendak marah pada isteri yang mungkin tidak sempat berhias atau melihat anak-anak yang tidak terurus.

 

Lalu, saat sang isteri melihat suami yang pulang ke rumah dalam keadaan marah-marah, ia merasa seolah-olah suaminya sudah tidak menyukai dan menyayanginya lagi. Maka akan timbul rasa hambar dan dinginnya rumahtangga yang telah dibina sekian tahun.

 

Dan sang isteri, jika merasa dirinya tidak dihargai lagi, mulailah ia memendam rasa (namun tidak semuanya seperti ini). Masalah yang kecil itu dirasakan cukup berat terlebih lagi bila berhadapan dengan kenakalan anak-anak dan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Pikirannya akan bertambah terhimpit dan jiwanya makin menderita.

 

Lantaran terlalu lama memendam rasa sakit hatinya, akhirnya pecah juga segala isi hati yang dipendam selama ini. Bagi seorang isteri yang lemah lembut mungkin dilepaskan geramnya dengan kata-kata.

 

Namun jika seorang istri terlihat keras hatinya, maka akan lebih dahsyat lagi kemarahan pada suaminya dengan kata-kata yang pedas dan kasar. Yang penting hatinya puas dan puas.

 

Dan bagi suami yang tidak mau masalah itu berkepanjangan, mungkin saja mengambil sikap untuk segera mengalah. Tapi sebenarnya hatinya sungguh terluka dibuat begitu. Begitu pula sebaliknya.

 

Kenapa harus tersinggung pada suami atau istri, walaupun mungkin benar jika suami atau istri yang bersalah? Setiap suami atau isteri harus memahami bahwa setiap apa yang berlaku semuanya dalam perancanaan dan kuasa Allah SWT walaupun perkara itu suka atau tidak kita suka.

 

Mungkin dosa yang dilakukan secara sadar atau tidak itulah yang menyebabkan sengketa rumahtangga itu terjadi. Allah hukum melalui tindakan suami yang menyinggung hati sang istri atau sebaliknya.

 

Allah datangkan masalah itu, sebenarnya sebagai penghapusan dosa yang telah kita lakukan. Hukuman dari Allah ini adalah sebagai tanda kasih sayang dari-Nya supaya di akhirat kelak kita tidak akan dihukum lagi.

 

Untuk itu, kita selalu bertaubat dan introspeksi diri kita dari terjebak dengan dosa. Rasulullah saw seorang yang maksum lahir dan batin, terpelihara dari dosa, namun selalu senantiasa bertaubat sehari semalam 100 kali. Apalagi kita yang tidak dijamin masuk surga, harus lebih dari itu

 

Seandainya kita telah bersalah, maka segeralah mencari jalan dengan meminta maaf kepada suami atau istri dan memberi maaf pada suami atau istri akan hal itu. Lebih-lebih lagi orang yang banyak jasa pada kita, kenapa harus kita menyusahkannya? Carilah jalan agar suami atau istri kembali ridha pada kita dengan berbuat apa saja yang disukai dan dicintainya.

 

Saat itulah pertikaian kecil dalam rumahtangga akan selalu membawa kita kepada kemesraan hubungan suami isteri yang lebih tinggi. Setelah diuji, Allah datangkan pula nikmat dalam rumahtangga. Setelah ujian berlalu akan datanglah bahagia. Setelah puas menangis karena menanggung luka di hati, akan datang pula kasih sayang, perhatian dan dari suami.

 

Rumahtangga akan kembali tenang dan bahagia. Dan ketika itu jadilah rumahtangga sebagaimana yang dikehendaki oleh Rasulullah saw yaitu “Rumahtanggaku adalah Surgaku”….Rumahku Surgaku….

 

 

 


greenstory wrote on Jan 30
TFs yah
pangerans wrote on Jan 30
TFs yah
sama-sama juga....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.