Blog EntryMisi Agung : Di Balik Indahnya PernikahanSep 5, '06 3:40 AM
for everyone

Sri (nama samaran), salah seorang teman baik isteriku (nama istriku Tarwiyah atau Awi, he..he..he..), menitikkan air mata ketika menyimak petuah-petuah Ilahi dalam khutbah nikah oleh seorang ustadz. Hari itu dia tengah menghadapi detik-detik bersejarah. Pasalnya, sebentar lagi Sri segera disunting seorang pria pilihan hidupnya.

 

Sang ustadz pun memberikan petuahnya tentang misi besar pernikahan. Misi besar pernikahan, kata sang ustadz, itu hakikatnya secara garis besar ada dua.

 

Pertama, memperbanyak keturunan atau regenerasi agar manusia secara besama-sama mampu mengelola bumi sebagai nikmat besar yang diwariskan Allah SWT kepada manusia.


Kedua, misi pemeliharaan bumi dari tangan-tangan kotor para kaum pendosa yang akan merusak warisan-Nya tersebut. Itulah salah satu petuah sang Ustadz sembari ia mengutip surat Annisa ayat satu yang saya ingat.

 

Karena itu, lanjut sang Ustadz, regenerasi yang diinginkan Al Quran, bukanlah sekadar berorientasi pada kuantitas. Tapi juga kualitas, yakni lahirnya generasi-generasi taqwa. “Sebab, upaya-upaya manusia mengeksploitasi bumi tidaklah akan memberikan kemanfaatan bagi sesama makhluk Allah, kecuali tugas itu diserahkan orang-orang beriman, yakni para generasi yang sholeh,” tuturnya.

 

Boleh jadi sedikit sekali yang mau menyelami hakikat misi agung yang ada di balik pernikahan. Misi mengelola dan memelihara bumi sekaligus yang dipikulkan di atas pundak manusia, sebagaimana yang dikhutbahkan sang Ustadz di atas, ternyata berkaitan erat dengan misi pernikahan.

Dalam pandangan masyarakat modern, pernikahan mungkin dipandang tak lebih sebuah seremonial formal yang menandai berakhirnya masa lajang seseorang. Atau lebih dari itu, pernikahan dianggap sebagai institusi, dimana dua insan berlainan jenis dinyatakan sah hidup bersama di dalamnya.

 

Bercumbu, memadu kasih, mengumpulkan harta, dan melakukan aktivitas apa saja, sembari menyiapkan masa depan bagi anak-anak dan keturunan mereka. Sahkah asumsi itu? Tentu, sah-sah saja bila ada yang berpandangan demikian.

 

Cetusan syahwat (nafsu) itu memang diakui oleh Al Qur'anul Karim. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).“ (QS 3 : 14).

 

Memang benar, siapa yang bisa menafikan betapa indahnya pernikahan? Mendapatkan suami atau istri yang ganteng/cantik, pintar, serta berharta? Tentu ini menjadi dambaan setiap manusia. Apalagi bila sebuah keluarga dikarunia Allah keturunan yang ganteng/cantik pula serta mampu jadi orang terpandang pada masa dewasanya. Pasti akan jadi kebanggaan setiap orang tua.

 

Tapi jika hanya sebatas itu pemahaman kita tentang misi pernikahan, tentu tak sempurna. Sebab dikhawatirkan institusi keluarga hanya berorientasi pada pemberdayaan anggota keluarga sendiri tanpa peduli pada keadaan sosial masyarakat sekelilingnya.

 

Antara satu keluarga dengan keluarga yang lain tak memiliki aksi dan misi bersama. Sebaliknya, mereka hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri), bahkan saling adu gengsi untuk bisa mempertontonkan apa-apa yang bisa dibanggakan. Entah dari harta yang dimiliki, atau keturunan.

 

Inilah kehidupan egoistik, materialistik dan individualistik yang sangat mungkin lahir dari paradigma pernikahan yang tak sempurna. Hubungan antar anggota masyarakat pun boleh jadi hanya basa-basi. Lewat klub-klub olahraga, klub makan-siang, klub fitness, klub fans artis idola, arisan, dan lain sebagainya yang kering dari misi sosial.

 

Kehangatan dan keakraban yang tulus pun tak tumbuh. Lantaran semua interaksi itu tidak didasari visi dan misi untuk kebaikan bersama. Tapi tak lebih sekadar adu gengsi: pamer harta, pangkat, kekuasaan dan jabatan.

 

Mungkin, keadaan inilah yang disinyalir Al Quran Suci, bahwa kelak manusia akan berlomba-lomba saling adu gengsi. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu. Kelak kamu akan mengetahui (akibat) perbuatanmu itu. Dan janganlah begitu. Kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu. Jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahannam. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Dan kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan dengannya ketika di dunia)”(QS 102 : 1-8).

 

Al Quran tak menafikan, pernikahan adalah institusi robbani yang memang disediakan bagi dua insan berlainan jenis untuk menyalurkan hasrat cinta dan kasih sayang antar sesama. Agar rumah tangga yang dibentuk itu menjadi terminal yang aman dan nyaman serta memberi ketenangan lahir-batin bagi seluruh anggota keluarga (QS 30: 21). Tapi bukan semata-mata itu tujuan pernikahan. Itu adalah misi antara dari tujuan hakiki yang harus dijalani.

 

Lebih dari itu, sebuah keluarga yang akan dibangun haruslah dicita-citakan untuk tujuan yang lebih makro. Sebagai pabrik yang akan memproduk generasi saleh dan shalehah. Agar mereka menjadi pengelola dan sekaligus penjaga warisan Allah, yakni bumi yang amat luar biasa kandungan kekayaannya.

 

Itulah misi pertama dan utama bangunan pernikahan. Tak pelak bila Allah menyebut pernikahan sebagai perjanjian agung (miitsaqon goliidzho) sebagaimana termaktub di dalam Kitab-Nya surat Annisa ayat 21

 

Sehingga pernikahan haruslah merupakan jembatan pertama bagi para anggota keluarga mengenali lingkungan sosialnya. Lalu berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, untuk selanjutnya bekerjasama dalam kebaikan.

 

Antar keluarga di dalam sebuah masyarakat, seyogyanya memiliki misi yang sama untuk mencapai kebaikan bersama. Karena itu, keluarga satu dengan lainnya di mana pun mereka berdominisili, haruslah memiliki link-link yang kokoh dalam kerangka menata kehidupan sosial masyarakat lingkungannya.

 

Sebagai konsekuensi dari adanya kepentingan yang sama untuk mencapai kemashlatan bersama itu, maka setiap penyimpangan yang dilakukan oleh anggota keluarga siapapun, semua keluarga ikut bertanggungjawab mencarikan solusinya.

 

Agar keseimbangan dan keharmonisan kehidupan sosial dapat terus dipelihara dan dipertahankan. Bila kesadaran bersama ini tumbuh kokoh, sangat kecil kemungkinan timbul disharmoni hubungan masyarakat.

 

Wajar bila Islam memandang, bahwa keluarga adalah ibu peradaban. Darinyalah lahir masyarakat, budaya, dan peradaban. Bagaimana wajah sosial, budaya, dan peradaban sebuah komunitas atau bangsa, sesungguhnya merupakan cerminan pemahaman masyarakat itu tentang keluarga.

Betapa sentral dan mendasarnya peran sebuah keluarga, menjadi alasan kenapa Islam mengarahkan setiap pemeluknya berhati-hati dalam mencari pasangan. Diharamkan seorang mukmin atau mukminat menikah dengan atau dinikahi orang-orang musyrik. Karena pernikahan bukan sekadar pertemuan dua jasad, dua hati, dan dua pemikiran. Tapi pernikahan hakikatnya, peristiwa berlangsungnya koalisi dua kekuatan iman untuk mencapai cita-cita agung.

 

Karena itu Rasul mulia berpesan, “Wanita itu dinikahi atas 4 hal. Karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena diennya. Maka ambillah wanita yang baik diennya. Pasti engkau akan beruntung.”

 

Tak berlebihan jika ustadz Fathi Yakan menyatakan dalam salah satu bukunya, “Jika kehidupan suatu masyarakat carut-marut, pastilah sumber permasalahannya adalah keluarga”.

 

Boleh jadi kenapa Sri kawan baik dan dekat isteri saya menitikkan air mata. Mungkin ia baru menyadari bahwa pernikahan bukanlah sekadar hiasan kosmetik kehidupan. Namun betapa agungnya misi yang diembannya. Walau itu tentunya berat. Tapi sekali lagi, jangan takut menikah bagi mereka yang belum menikah.

 

 

:: Dipersembahkan untuk para lelaki shaleh dan wanita shalehah yang ingin melaksanakan setengah diennya. Tulisan ini berlaku juga bagi temen-temen MP yang sudah lama dan baru menikah

 

 

“Baarakallaahu Laka Wa Baaraka Alaika Wa Jama’a Bainakumaa Fii Khairin”

 

 



50 CommentsChronological   Reverse   Threaded
agne5 wrote on Sep 5, '06
Mudah2an saya termasuk golongan orang yang menikah karena ingin menyempurnakan ibadah kepada Allah... Amiiiiiiiiin ^_^
arifien wrote on Sep 5, '06
aku terkesan... dengan foto2nya yg adem banget!
akmal wrote on Sep 5, '06
catet ah cateeeeet... bulan Nopember sudah semakin mendekatttt... :p
aldiansyah wrote on Sep 5, '06
hahahahaha...pangeran ini bisa ajah yah nulisnya...denger-denger artikel dan tulisannyah sudah puluhan ribu yah sejak SD hingga sekarang
aldiansyah wrote on Sep 5, '06
itu fotonyah pangeran yah..? wah gantuenggggg juga nihhh
ical792004 wrote on Sep 5, '06
aku pingin bgt seperti Pangeranz...
InsyaAlloh, do'ain yach...supaya..cepetan..

*kapan lagi*
ciput wrote on Sep 5, '06
Ada yg foto berempat Kang? Pas mo bikin kado buat Bayu dan Ade kemarin baru nyadar kalo foto berempat kami terakhir itu bertanggalkan 15 Mei 2005!!! Saat itu anak saya yg besar (Vito) sedang wisuda TK-nya... dan difoto deh kumplit. Sejak itu malah ga kepikir foto bareng, sampai 31 Agustus kemarin itu :D *lagi berencana mo ke tukang foto studio nih*
pangerans wrote on Sep 5, '06
agne5 said
Mudah2an saya termasuk golongan orang yang menikah karena ingin menyempurnakan ibadah kepada Allah... Amiiiiiiiiin ^_^
amiennnnn mba agnes...semoga yah
pangerans wrote on Sep 5, '06
arifien said
aku terkesan... dengan foto2nya yg adem banget!
makasih mas arifien...adem yah fotonyah. hatur nuhun.yah mas
pangerans wrote on Sep 5, '06
akmal said
catet ah cateeeeet... bulan Nopember sudah semakin mendekatttt... :p
Wahhhh...jadi juga yah bulan nopember besok...undaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanng donk
pangerans wrote on Sep 5, '06
hahahahaha...pangeran ini bisa ajah yah nulisnya...denger-denger artikel dan tulisannyah sudah puluhan ribu yah sejak SD hingga sekarang
eh mas aldi..baru nongol yah...iyah betul mas...jika digabung sejak SD artikel, cerpen, puisi, sajak dan lainnya kurang lebih udah puluhan ribu...kok tahu yah...dari mana
pangerans wrote on Sep 5, '06
itu fotonyah pangeran yah..? wah gantuenggggg juga nihhh
hikkkkkk...hikkkk... makasih yah. Yang bilang ganteng mas aldi dan istri saya lohhhh...tapi yang lainnya juga banyak seehhhh....hahahahahaha...wakakakakak
pangerans wrote on Sep 5, '06
itu fotonyah pangeran yah..? wah gantuenggggg juga nihhh
hikkkkkk...hikkkk... makasih yah. Yang bilang ganteng baru mas aldi dan istri saya lohhhh...tapi yang lainnya juga banyak seehhhh....hahahahahaha...wakakakakak
pangerans wrote on Sep 5, '06
aku pingin bgt seperti Pangeranz...
InsyaAlloh, do'ain yach...supaya..cepetan..

*kapan lagi*
oh iyah mas ical...semoga diberikan kemudahan yah sama Allah
pangerans wrote on Sep 5, '06
ciput said
Ada yg foto berempat Kang? Pas mo bikin kado buat Bayu dan Ade kemarin baru nyadar kalo foto berempat kami terakhir itu bertanggalkan 15 Mei 2005!!! Saat itu anak saya yg besar (Vito) sedang wisuda TK-nya... dan difoto deh kumplit. Sejak itu malah ga kepikir foto bareng, sampai 31 Agustus kemarin itu :D *lagi berencana mo ke tukang foto studio nih*
iyah mas ciput...saya juga jarang yang foto keluarga semuanya. baru kemaren di Ragunan minta di fotoin...jadi mau ke studio juga nihhh. makasih yah
imazahra wrote on Sep 5, '06
Dari tulisan Kang Cepy dan photo2 keluarga, keliatan sekali samaranya, subhanallah :-)
chocoholicrystal wrote on Sep 5, '06
jangan takut menikah bagi mereka yang belum menikah
sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan, tapi mungkin mudah untuk di ucapkan
pangerans wrote on Sep 5, '06
Dari tulisan Kang Cepy dan photo2 keluarga, keliatan sekali samaranya, subhanallah :-)
hatur nuhun...makasih mba ima yah
mbakje wrote on Sep 5, '06
syukron tulisannya. inspiring!
pangerans wrote on Sep 5, '06
sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan, tapi mungkin mudah untuk di ucapkan
mudah diucapkan mudah juga dilaksanakan...karena ini merupakan perintah dari Allah, hanya saja tinggal bagaimana niat, doa dan kesiapan kita menuju ke arah sana. Saya pun niat dan berdoa menikah di usia 25 tahun, namun sejak 22, 23, 24 ikhtiar...namun alhamdulillah tercapai padahal waktu itu masih mahasiswa.

Jadi, kayaknya nggak ada sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. maka dari itu teruslah niat, doa dan kesiapan kita diusahakan terus...tinggal Allah nanti yang mengatur pernikahannya
pangerans wrote on Sep 5, '06
mbakje said
syukron tulisannya. inspiring!
inspiring dengan waktu yang semakin dekat yah mba
martsiska wrote on Sep 5, '06
Lebih dari itu, sebuah keluarga yang akan dibangun haruslah dicita-citakan untuk tujuan yang lebih makro. Sebagai pabrik yang akan memproduk generasi saleh dan shalehah. Agar mereka menjadi pengelola dan sekaligus penjaga warisan Allah, yakni bumi yang amat luar biasa kandungan kekayaannya.
ini statement favorit saya deh.... ^_^
pangerans wrote on Sep 5, '06
ini statement favorit saya deh.... ^_^
hahahahaha....gak tahu yah..kok bisa nulis kata-kata seperti itu yahhhhh mba siska. Kok kayaknya gimana gituh.

masih bekerja di PT Cipta Sari Makmur kah?
mbakje wrote on Sep 6, '06
inspiring dengan waktu yang semakin dekat yah mba
yang pasti makin dekat, gak mungkin makin jauh ustadz :P
martsiska wrote on Sep 6, '06
hahahahaha....gak tahu yah..kok bisa nulis kata-kata seperti itu yahhhhh mba siska. Kok kayaknya gimana gituh.

masih bekerja di PT Cipta Sari Makmur kah?
Citra Sari Makmur pak... perusahaan telekomunikasi, bukan pabrik roti... ^_^

Saya pribadi berpendapat begini pak, kok ya sayang sekali ya... kalau menikah itu hanya 'sekedar' untuk menjaga diri atau hanya 'sekedar' menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram, meski menikah dengan alasan-alasan tersebut sangat benar adanya. Kata sekedar saya beri tanda kutip, karena sesuatu yang 'sekedar' itu sebenarnya sangat besar juga....
Gimana pak ustadz?
pangerans wrote on Sep 6, '06
Citra Sari Makmur pak... perusahaan telekomunikasi, bukan pabrik roti... ^_^

Saya pribadi berpendapat begini pak, kok ya sayang sekali ya... kalau menikah itu hanya 'sekedar' untuk menjaga diri atau hanya 'sekedar' menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram, meski menikah dengan alasan-alasan tersebut sangat benar adanya. Kata sekedar saya beri tanda kutip, karena sesuatu yang 'sekedar' itu sebenarnya sangat besar juga....
Gimana pak ustadz?
eh iyah maksudnya PT Citra Sari Makmur bukannya Cipta..

Terkadang memang banyak sekali menggunakan kata "sekedar atau sekadar" dalam memberikan analogi tentang pernikahan. tapi mungkin maksudnya besar dan agung kali yah...bisa seperti itu
kangbayu wrote on Sep 7, '06
bacaan bagus diawal pernikahan kami, makasiiiiiih mas Cepy, makasih juga dah sempet mampir ke syukuran kemaren =)

bayu+ade
http://kangbayu.multiply.com/journal/item/457
inimona wrote on Sep 7, '06
jadi semakin terbuka nih hati buat....
pangerans wrote on Sep 7, '06
bacaan bagus diawal pernikahan kami, makasiiiiiih mas Cepy, makasih juga dah sempet mampir ke syukuran kemaren =)

bayu+ade
http://kangbayu.multiply.com/journal/item/457
oh iyah kang bayu....sekalian juga deh..ini hadiah dari saya juga yah...
pangerans wrote on Sep 7, '06
inimona said
jadi semakin terbuka nih hati buat....
terbuka untuk apa?....
inimona wrote on Sep 7, '06
buat lebih rasional berfikir tentang pernikahan :)
pangerans wrote on Sep 7, '06
inimona said
buat lebih rasional berfikir tentang pernikahan :)
ohhhhh..gituh yahhhh...setuju deh
martiut wrote on Nov 16, '06
Bismillah yach ustad
pangerans wrote on Nov 16, '06
martiut said
Bismillah yach ustad
iyah...bismillah ajah mba...semoga sukses juga yah
muhammadhaerul wrote on Mar 1, '07
Saya copy mas cepy, pelajaran berharga buat yang belum nikah seperti saya.
Sekalian mohon doanya
pangerans wrote on Mar 1, '07
Saya copy mas cepy, pelajaran berharga buat yang belum nikah seperti saya.
Sekalian mohon doanya
mangga kang hairul...iyah saya doakan juga yah moga sukses...

*jangan lupa undangannya yah...eh ngomong-ngomong jauh nggak nanti
muhammadhaerul wrote on Mar 1, '07
syukron mas.
jauh tidaknya tergantung jodoh. saat ini saya bekerja di Makassar, jauh nggak mas? hehehe
pangerans wrote on Mar 1, '07
syukron mas.
jauh tidaknya tergantung jodoh. saat ini saya bekerja di Makassar, jauh nggak mas? hehehe
xixixi..makasar yah...jauh juga yah. saya kira di jakarta

tapi say apernah ke makassar: tepatnya di Jl. Pengayoman Ruko Jasper III/11 Makasar
silazahra wrote on Aug 23, '07
Assalamu'alaikum...thanks atas tulisan yg bermakna ini semoga rina semakin mantap dalam melangkah ke pernikahan,,, mohon doa restunya...dan smoga kluarga mas cepy,,mnjadi kluarga sakina mawaddah warohmah...amin
pangerans wrote on Aug 23, '07
Assalamu'alaikum...thanks atas tulisan yg bermakna ini semoga rina semakin mantap dalam melangkah ke pernikahan,,, mohon doa restunya...dan smoga kluarga mas cepy,,mnjadi kluarga sakina mawaddah warohmah...amin
amien...sama-sama juga untuk Rina...semoga berkah dan sukses selalu yah
khayangans wrote on Sep 10, '07
Kalo aku nyari calon suami (dulu) ada syarat tambahannya, yaitu tidak merokok, hehe..
pangerans wrote on Sep 10, '07
Kalo aku nyari calon suami (dulu) ada syarat tambahannya, yaitu tidak merokok, hehe..
ohhh...boleh juga teh ayang....diatur sajah...
kohan2282 wrote on Oct 9, '07
cari...cari ah!! sapa tahu nemu di MP ini :)
pangerans wrote on Oct 10, '07
cari...cari ah!! sapa tahu nemu di MP ini :)
hahaha..iyah juga yah...
masopang wrote on Oct 25, '07
Tapi pernikahan hakikatnya, peristiwa berlangsungnya koalisi dua kekuatan iman untuk mencapai cita-cita agung.
subhanallah....I wish !

jadi ngrasa nih udah overlap muluw ama adik2 kelas euy ! :(
pangerans wrote on Oct 25, '07
subhanallah....I wish !

jadi ngrasa nih udah overlap muluw ama adik2 kelas euy ! :(
siiiippppp....ayoooo
kireinatsuki wrote on Jan 16
karena misinya begitu agung, persiapannya ga main2 juga ya Pak.
Ada ga tulisan ttg persiapan buat para akhwat? hehehe..., misalnya klo kata Ustz Yoyoh, untuk menghasilkan generasi yang sholeh dan unggul dari mudanya ibunya ga boleh byk makan mie instant. Bagaimana tips dari ummi?
pangerans wrote on Jan 16
karena misinya begitu agung, persiapannya ga main2 juga ya Pak.
Ada ga tulisan ttg persiapan buat para akhwat? hehehe..., misalnya klo kata Ustz Yoyoh, untuk menghasilkan generasi yang sholeh dan unggul dari mudanya ibunya ga boleh byk makan mie instant. Bagaimana tips dari ummi?
wah iya emang gak main-main persiapannya. kalo gak salah saya pernah nulis deh mba...makan mie instant sama sama generasi sholeh dan unggul kayaknya gak ada kaitannya deh...hanya saja memang harus banyak dihindari....

tips dari istri?...wah gimana yah...hehehe
putriecantika wrote on Jan 21
Barakallah....

when that's day comes yah xixixiixi
pangerans wrote on Jan 23
Barakallah....

when that's day comes yah xixixiixi
amien....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.