Kawanku…
Ternyata problem rumah tangga begitu penuh liku-liku kehidupan. Disatu sisi menyenangkan disatu sisi yang lain menjadi tidak menyenangkan dan tinggal bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut.
Begitu juga dengan teman saya (sebut saja namanya Fulan) bercerita kepada saya melalui e-mail pribadi (mungkin curhat kali yah?) tentang istrinya yang ‘maaf’ sudah 'tidak menyenangkan lagi'. Sering cemberut, marah-marah, lambat bekerja, tidak memelihara barang kesukaan suami (foto, piagam, tulisan, dsb), tidak pintar mendidik anak, tidak mengurus diri sendiri (tidak bersolek untuk suami), dsb-dll-dst.... banyak sekali dan bisa penuh kalau mau ditulis semua.
Saya mencoba menjadi teman yang baik dan mendengarkan dengan empatik; mencoba merasa seakan-akan saya adalah dia dalam kegalauan dan kesebalannya menghadapi isterinya.
Setelah ia selesai mengungkapkan hampir semua kekesalan hatinya dalam e-mail pribadi, saya mencoba memberi jalan keluar, tentu saja dengan sangat hati-hati takut memberi efek samping yang tidak diharapkan atau menyinggungnya atau bahkan hal inipun bisa terjadi dan mungkin terjadi dalam keluarga saya.
Dan saya pun berdo’a dalam diri agar Yang Maha Pembolak-balik Hati Allah SWT, tidak memberikan musibah, ujian dan mihnah melebihi kesanggupan yang saya tidak bisa menanggungnya. Insya Allah
Saya bilang, dia bisa memikirkan tiga pertimbangan:
1. Mungkin kegalauannya (dalam hal ini teman saya) hanya sesaat.
Barangkali dengan ‘berpisah beberapa saat dengan memikirkan kebaikan dan keburukan yang akan terjadi (bukan cerai yah)’ ia akan bisa berfikir jernih dan kembali merindukan istrinya. Saya juga pernah marah (marah kecil, tapi tidak sampai kehilangan kontrol) karena beberapa 'kekurangan' istriku, tetapi ketika aku berfikir bahwa jika tidak ada istriku maka keadaan saya lebih buruk lagi, saya menjadi tenang dan kemarahanku berangsur hilang.
Siapa tahu ia memerlukan beberapa hari ‘berpisah’ (bukan berpisah yang negatif) dengan istri dan anak-anaknya agar merasa kangen (kangen dengan rengekan/tangis anak-anak, kangen dengan sambutan istri di depan pintu, kangen dengan omelan sebal istri.... Kangen dengan banyak hal yang kadang aneh dan tidak logis-lah untuk dipikirkan !)
Dan jika dipikir lebih mendalam lagi, mungkin isteri isteri kita lebih banyak kebaikannya daripada kita. Toh sahabat Umar Bin Khattab saja lebih memilih dimarahi isterinya daripada membicarakan kekurangan isterinya…
2. Nabi saw menyuruh kita melihat 'sisi lain' (mungkin istilahnya: out of the box and loop).
Seorang wanita mungkin memiliki banyak kekurangan di satu sisi, tetapi ia pasti memiliki juga lebih banyak kelebihan di sisi yang lain. Dengan kearifan, kita bisa melihat masalah secara lebih adil sehingga tidak menjatuhkan keputusan yang nantinya disesali.
Secara berkelakar (dengan bahasa komunikasi guyonan) saya bertanya: kalau tidak ada yang menarik, mana mungkin kamu dulu memilihnya menjadi istri? (iya..yah, kenapa dahulu dipilih…ha..ha…ujarku sambil menampilkan senyumku yang tidak terlihat oleh temanku itu) karena ini dunia maya.
Tanpa sengaja rupanya pertanyaanku memberinya pintu masalah tambahan yang bertambah juga masalah yang harus aku coba pecahkan: 'dulu saya tidak memilihnya. saya hanya minta tolong pembina saya, kemudian saya tsiqah (baca; percaya) saja menerimanya....' ujarnya lagi kepadaku dalam kesempatan e-mail yang lain.
Saya pun berfikir keras sesaat, kemudian mencoba mengajukan pola solusi ketiga:
3. Apa sih visi dan misi kita menikah?
Ia telah menikah dengan awalan yang sangat baik: memilih semata karena agama. Tidak ada pertimbangan wajah, harta atau keturunan. Jadi mengapa tidak mempertahankan keluarga dengan visi-misi awal tersebut: lillaahi ta'ala? Ujarku dalam e-mail balasan kepadanya
Sesungguhnya semua kesabaran itu ada pahalanya yang sangat besar. Siapa tahu pahala yang membuat kita masuk surga adalah pahala sabar menggauli istri yang tidak kita cintai! Atau isteri yang ternyata tidak kita sukai. Lihatlah QS. 4: 19 sbb: “ …Dan Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri kalian), (maka bersabarlah) karena kamu mungkin tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya (istrimu) kebaikan yang banyak.”
Lihatlah mudharat berpisah (thalaq): anak-anak yang terlantar, saling ghibah untuk membela diri (bukan aku yang salah; dialah yang membuat kami berpisah), belum lagi kalau sampai muncul benih dendam, hasad dsb... na'udzubillaahi min dzaalika. Belum lagi kalau menghitung biaya pemeliharaan anak yang tetap harus ditanggung ayah (meskipun ayah-ibu sudah bercerai). Bisakah ia berlaku adil dalam memberi nafkah anak-anaknya?
Kami berdua berbicara lebih banyak lagi (tentunya via e-mail pribadi, karena kalau lewat HP habis…lah pulsa nyah..!, dan alhamdulillah beliau akhirnya memutuskan untuk mencoba kembali mencintai istrinya. Ia pun permisi dengan mengucapkan terima kasih dan hamdalah.
Saya berfikir bahwa percakapan kami adalah dua arah (walaupun dengan menggunakan dunia maya), sehingga saya juga harus berterima kasih kepadanya. Ia mungkin mendapat manfaat dari pembicaraan tersebut (saya doakan ia mendapatkannya), tetapi mungkin juga tidak; Wallaahu a'lam.
Sedangkan saya, jelas sekali setelah percakapan tersebut saya mendapat manfaat yang sangat besar: bertambahnya cinta kepada istri dan anak-anakku (he...he..he..Ngaku..!!!) Seakan ia datang untuk memberitahuku bahwa Allah mengingatkan betapa banyak nikmat-NYA yang bisa saya gali darinya (maksudnya isteri saya……eh…ngomong-ngomong isteriku namanya Tarwiyah/Mba Awi/Ummu Faris dan anak-anakku bernama Faris Kasyfi ‘Aziz dan sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar/MIN 15 Bintaro dan Muhammad Ammar Azmi juga sudah sekolah kelas 2 MI). Dan yang ketiga Alifah Hurun Ain, baru berumur 3 tahun. Terima kasih Isteriku, karena telah menjaga harta, rumah dan anak-anakku. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan-kebaikan dan kemudahan menuju jalan-Nya.
Jazaakallaahu akhi. Semoga Allah berikan jalan kemudahan buat antum dan keluarga. amien
Saya mengirim cerita pribadi ini sebagai syukur atas tercapainya sebuah solusi; siapa tahu ikhwah lain ada yang bisa mengambil manfaat. Afwan kalau ada yang tersungging/merasa email ini terlalu menggurui…de..el..el..de..el...el
Inti pesan ini adalah: cintailah istri Anda....bagi yang sudah punya isteri, Bagi yang belum……terserah anda…!!! Ayo donk buruan, pinanglah akhwat (baca; wanita muslimah) bidadari yang bermata jeli (ha..ha..ha..jangan tersungging yah dengan bahasa komunikasi saya). untuk yang wanita...buruan donk pinang juga bidadara yang shaleh...hehehehehe
Bintaro, Juli
Tjetjep Joesoef Pramana Soekmaprana Hadiredja itulah nama panjangku saat lahir dan tercantum di akta lahir, kini setelah EYD (1972) namanya cukup disingkat Cecep Yusuf Pramana, kini bekerja di lembaga kemanusiaan nasional PKPU